
KARIMUN, WARTAKEPRI.co.id – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Karimun ke-198 yang jatuh pada 1 Mei 2026, menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat pelestarian tradisi serta budaya Melayu di tengah arus globalisasi.
Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kabupaten Karimun, Muhammad Firmansyah, usai menghadiri rapat paripurna peringatan hari jadi di Gedung Balai Rong Sri, Sekretariat DPRD Karimun, Jum’at (1/5/2026).
Menurutnya, penetapan 1 Mei 1828 sebagai hari jadi Karimun bukan hanya peringatan seremonial, tetapi juga pengingat akan pentingnya memahami sejarah daerah serta menjaga identitas budaya yang mulai tergerus zaman.
“Ini menjadi titik balik bagi kita semua untuk memahami sejarah Karimun sekaligus memperkuat komitmen dalam melestarikan tradisi dan budaya Melayu,” ujar Firmansyah.
“Salah satu langkah konkret yang diusulkan kata Firmansyah adalah memperkuat pendidikan budaya melalui sekolah,” tambah Firmansyah.
Firmansyah menilai, pengenalan budaya Melayu sejak dini dapat dilakukan dengan memasukkan materi terkait ke dalam muatan lokal pendidikan.
Ia juga mengapresiasi kebijakan penggunaan bahasa Melayu setiap hari Jumat di sekolah-sekolah sebagai langkah awal yang positif.
“Meskipun masih perlu penguatan melalui kajian yang lebih komprehensif,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karimun, Grendy Regel Tuerah, mengatakan, pihaknya saat ini tengah menyusun dan mengembangkan materi budaya Melayu untuk dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal.
“Muatan lokal sebenarnya sudah ada di sekolah. Namun saat ini kami terus melakukan kajian dan pengumpulan materi, khususnya terkait tradisi dan budaya Melayu di Kepulauan Riau,” jelas Grendy.
Selain itu, pihaknya juga mendorong agar sejarah penetapan 1 Mei 1828 sebagai hari jadi Karimun dapat didokumentasikan dalam bentuk buku.
Hal ini dinilai penting sebagai sumber pembelajaran bagi generasi muda agar lebih memahami sejarah daerahnya.
“Kami berharap sejarah hari jadi Karimun dapat dibukukan, sehingga bisa menjadi bahan ajar di sekolah dan menambah wawasan siswa tentang daerahnya sendiri,” pungkas Grendy.
Dengan berbagai upaya tersebut, peringatan Hari Jadi Karimun diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menjaga warisan budaya Melayu agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
“Peringatan Hari Jadi Karimun diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menjaga warisan budaya Melayu agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang,” tandasnya.
Penulis: Junizar
Editor: Azis































