WARTAKEPRI.co.id , BATAM – Pers yang merdeka adalah pilar terakhir demokrasi. Pers yang bebas dan bertanggung jawab memegang peranan penting dalam masyarakat demokratis. Pers merupakan pilar demokrasi keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pers sebagai kontrol atas ketiga pilar itu dan melandasi kinerjanya dengan check and balance.
Oleh karena itu, untuk dapat melakukan peranannya perlu dijunjung kebebasan pers dalam menyampaikan informasi publik secara jujur dan berimbang. Disamping itu pula untuk menegakkan pilar keempat ini, pers juga harus bebas dari kapitalisme dan politik. Atau dengan kata lain, pers yang tidak sekedar mendukung kepentingan pemilik modal dan melanggengkan kekuasaan politik tanpa mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih besar.
Demikian kesimpulan dalam diskusi Batam Intersection tadi malam, Rabu (3/5/2016), yang menghadirkan tiga narasumber, masing-masing, Pendiri Media Online Warta Kepri, Dedy Suwadha yang juga pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepri, Tommy Purniawan, Ketua Pewarta Foto Indonesia serta Septia dari Unit Kegiatan Pers Kampus Unrika.
Dalam sesi pertama diskusi, Dedy Suwadha mengulas pentingnya kebebasan pers secara umum. Kemudian pria yang juga mantan Kepala Biro Tribun Kota Tanjungpinang itu menyinggung betapa kerja-kerja jurnalis memang memiliki tantangan yang cukup besar. Bukan hanya tekanan secara fisik, tapi juga intimidasi mental kerap dialami awak media di Batam dan Kepri.
“Kadang pihak-pihak tertentu menggunakan kekuatan uang menutup suatu persoalan agar tidak terekspos di media. Nah pembungkaman dengan modus suap paling sering terjadi, tapi sebagian besar awak media di Batam masih cukup tahan dengan intimidasi mental seperti itu,” ujarnya.
Namun, Ia tak menampik bahwa dalam beberapa persoalan, jurnalis yang memiliki idealisme tinggi kadang justru dikalahkan dengan kepentingan perusahaan. Dimana perusahaan pers juga memiliki sisi “profit oriented” selain ‘Social oriented” yang mereka jalankan.
“Bagaimanapun juga, pers itu Industri yang juga butuh kapital untuk mempertahankannya. Kasus-kasus besar yang berhubungan dengan pemasang iklan kadang kala menjadi dilematis. Tapi biasanya berita tetap naik meski dengan bahasa-bahasa yang sudah diperhalus,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepri, Tommy Purniawan, mengungkapkan, bahwa secara umum kebebasan pers di Batam dan Kepri sudah terjamin. Hanya saja, Ia tak menampik, jika beberapa kali kasus-kasus wartawan yang dihalang-halangi dalam proses peliputan.
“Saya sendiri mengalami, bagaimana foto hasil jepretan saya diminta secara paksa,” ujarnya.
Dikatakan Tommy, kesadaran bahwa pentingnya pers yang merdeka harus ditanamkan ke seluruh lapisan masyarakat. Sehingga mereka mendukung kerja-kerja media dalam rangka memberikan informasi seakurat mungkin.
“Kebebasan pers ini bukan hanya tanggungjawab media, tapi juga seluruh lapisan masyarakat. Konsep citizen jurnalisme itu salah satu bentuk bagaimana media menstimulus peran aktif masyarakat,” tegasnya.
Pada sesi berikutnya, Septia, narasumber yang aktif di media kampus mengungkapkan, hingga saat ini kemerdekaan pers untuk di tataran kampus masih belum terwujud. Hal ini lantaran pers kampus masih menggantungkan kebutuhan logistik dan pendanaan dari pengelola kampus dalam hal ini rektorat dan yayasan. Sehingga kritik-kritik terhadap kebijakan kampus, mustahil dilakukan.
“Bagaimana mungkin kami menulis tentang kritik-kritikan yang tajam ke pihak kampus sementara pendanaan cetak dan lain sebagainya mereka yang nanggung?” keluhnya.
Menanggapi komentar tersebut, Dedy Suwadha menyarankan agar pers kampus mampu berbuat lebih untuk menyeimbangkan antara kebijakan kepentingan kampus dengan mahasiswa. Jika media internal tidak bisa digunakan, mungkin beralih ke media sosial yang kini makin digandrungi.
“Bisa bikin forum-forum di medsos, mungkin itu lebih efektif jika media mainstrem tidak bisa digunakan. Karena hari inni sudah terbukti, keberadaan medsos memberikan warna lebih bagi kebebasan berpendapat bagi semua kalangan,” ujarnya.
Diskusi Batam Intersection edisi ini ditutup dengan kesimpulan masing-masing narasumber, dimana mereka sepakat bahwa kebebasan pers adalah sebuah keniscayaan yang wajib diwujudkan.(*)
Batam Intersection
RRI PRO 2 Batam
Produser: Nurfahmi Magid
Co.Produser: Dod’s Day Afternoon
Tim kreatif: Agung Widjaja, Yudish, Denok, Nurfahmi Magid,
Panelis: Agung Widjaja
MC: Yudish Denok
























