WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Banyak pemicu anak bermasalah dengan hukum, atau melakukan tindak kekerasan kepada anak lain. Mulai dari akses mudah menonton pornografi, pengaruh minuman keras, pengaruh game kekerasan hingga pengaruh orang sekitar yang lebih dewasa.
Inilah materi yang disampaikan oleh Erlinda, MPD Komisioner Perlindungan Anak Indonesia, dalam Pelatihan Jurnalistik ” Peliputan Khusus Anak” bersama Dewan Pers, Senin (16/5/2016) di Hotel Goodway Batam.
Menurut Erlinda, kebijakan Presiden Jokowi yang menyatakan kejahatan terhadap anak sudah masuk kejahatan ektra, sama seperti kejahatan narkoba, korupsi atau terorisme, sudah sangat tepat.
Oleh itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia mendukung perpu tentang hukuman tambahan bagi pelaku kejahatan seksual, yang akan diterbitkan oleh Presiden. Hukuman tambahan berupa Kebiri hingga hukuman maksimal, seperti hukuman mati.
Ditambahkan Erlinda, selain ada aturan hukum yang berat, namun kembali lagi masalah perlindungan anak ada ditangan orang tua. Orang tua sekarang harus memahami apa yang menjadi masalah anaknya. Lakukan komunikasi, dan jangan memberikan suara tinggi ketika anak mendapat masalah atau bermasalah.
” Ibu dan Bapak kerja siang hingga malam. Anak dengan siapa. Ini dialami oleh semua orang tua. Baik yang berkerja sebagai petani, kebun, nelayan, pedangang, pekerja kantoran dan profesi lainnya. Kebutuhan hidup tinggi, membuat wanita ikut membantu mencari nafkah, lalu anak kita dengan siap, dan siapa mengawasinya. Ingat itu, dan semua ada resikonya,”ujar Erlinda.
Adapun solusi yang harus ditanamkan kepada anak saat ini, adalah lakukan kebiasaan agar anak bisa berteriak keras dan melawan akan setiap aksi kekerasan ketika mereka hadapi. Bekali anak-anak saat ini dengan latihan ilmu bela diri.
“Bagi Anda yang punya anak perempuan, ajarkan dari sekarang, untuk latihan beladiri, dan juga ajarkan berani teriak atau katakan tidak, untuk dapat terhindar dari aksi kejahatan kekerasan anak dan seksual. Berani melawan, setidaknya dapat mengurangi resiko. Kadang, anak perempuan ketika mengalami ketakutan, mereka hanya terduduk, nangis dan pasrah. Coba berteriak keras, minimal orang sekitar pasti mendengar,”tegas Erlinda. (dedy)






























