IPW: Polri dan TNI Harus Waspadai Tokoh Ali Kolara di Jogja

7
Warta Neta s Pane

WARTAKEPRI.co.id, JAKARTA – Kerjasama TNI-Polri dalam melumpuhkan tokoh teroris Santoso di Poso, Sulteng patut diapresiasi, meski penumpasan kelompok teroris yang hanya sebanyak 30 orang ini cukup lama, yakni berlangsung 8 bulan dengan melibatkan 3.000 personil.

Ind Police Watch menilai, tewasnya Santoso bisa disebut sebagai hadiah TNI untuk Kapolri baru Tito Karnavian. Sebab Santoso tewas dalam operasi yang dilakukan TNI, yang berujung pada aksi tembak menembak. Dari kasus Santoso terlihat adanya soliditas antara TNI dan Polri dalam melakukan kerjasama di Operasi Tinombala.

Dengan tewasnya Santoso, Polri tetap perlu bekerja keras mengantisipasi perlawanan para teroris. Sebab saat ini ada dua tokoh yang berbahaya, yakni Ali Kolara yang berpotensi menggantikan posisi Santoso di Poso dan Arief Maroef tokoh yang menyembunyikan Noordin M Top, yang sekarang sudah bebas dan berada di Jogja. Keduanya perlu diwaspadai Polri.

Tewasnya Santoso bukan berarti aksi terorisme di indonesia akan berakhir. Yg dikhawatirkan justru adanya serangan balasan dari antek2 dan jaringan Santoso. Di Poso sendiri Santoso sudah membangun kader. Salah satu, Ali Kolara. Kelompok Santoso sendiri merupakan satu dari 9 kelompok radikal yg msh tumbuh subur di Indonesia, yg sangat berpotensi melahirkan para teroris.

Walau Santoso sudah tewas pengejaran Polri terhadap teroris di Indonesia belum akan berhenti. Sebab kelompok solo masih terlihat sangat agresif, setidaknya ini terlihat dalam aksi bom bunuh diri di Polresta Solo akhir Ramadhan lalu.

Potensi teroris ini makin mengkhawatirkan tatkala beredar kabar masuknya dana setara Rp 20 miliar dari Suriah ke Jogja yg diduga untuk kelompok teroris. Artinya Kapolri baru Tito Karnavian maupun Kepala BNPT yang baru Komjen Suhardi Alius msh hrs melakukan kerja keras untuk menekan aksi2 terorisme di Indonesia. (rilis)

PKPONLINE PKP DREAMLAND

Salam
Neta S Pane
Ketua Presidium Ind Police Watch

Komentar Anda

BBK MURAH FANINDO DEWAN PERS WARTAKEPRI