Geliat Gelper di Batam, Bisa Hadirkan Peluang Kerja, Tapi Sekaligus “Menjebak”‎

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Bisnis Gelanggang Permainan Elektronik (Gelper) di Kota Batam, sepertinya bidang usaha yang satu satunya mendorong perputaran ekonomi di Kota Batam.  

Ditengah lesunya investasi dan banyak pabrik tutup selama 2016 hingga saat ini, usaha hiburan berbayar ini, dinilai mampu memutar roda ekonomi.

Tentu, untuk membuka usaha ini ada izin dari pemerintah terkait. Karena, mesin mesin permainan ini didatangkan dari luar Batam, dan mungkin dari luar negeri.

PKP EXPO

Dihampir setiap kecamatan di Kota Batam yang ramai penduduknya, dapat ditem‎ui ruko ruko yang membuka usaha ini. ‎

Seperti terlihat dari pantauan di Nagoya, dimana sebuah ruko dengan nama One Zone, dan terletak belakang DC Mall, Nagoya Batam, Rabu (25/1/2017) sore.

Saat itu, ‎termelintas satu truck crane besar bernama perusahaan P*S yang kemudian berhenti persis di depan One Zone untuk menurunkan beberapa mesin gelper. Diduga itu adalah mesin baru yang sengaja didatangkan untuk menambah armada praktik perjudian elektronik.

Mencoba mendapat informasi, media ini menghampiri seorang warga yang berada dekat dengan lokasi. Menurut pria yang enggan menyebutkan namanya itu, mengatakan bahwa One Zone tempat permainan tersebut telah beroperasi lama, dan ramai pengunjungnya.

Terpisah, Rizki dari Forum Kepemimpinan Mahasiswa (FKM) Kepri, menuturkan bahwa sudah sepantasnya keberadaan gelper di Kota Batam dilokalisasikan agar lebih tertib dan teratur. Sehingga jelas masuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menurutnya, keberadaan gelper sekarang ini sudah seenaknya saja, dan tidak tertata dengan rapi. Pastinya itu sangat merugikan dan juga meresahkan masyarakat.

” Mestinya gelper tersebut ditempatkan di satu titik, dan dapat mudah pengawasan nya,” ujar Rizki.

Pendapat lain dari netizen dilaman Facebook WartaKepri, menurut usaha usaha seperti ini harus dilokalisasi. Karena kondisi saat ini masuk area abu abu.

” Teman saya kerja harian di salah satu arena. Lalu waktu ada razia, dia yang jadi pesakitan, Sedangkan pengelola tidak. Kalau di lokalisir, dan masuk pendapatan daerah, tentu kecemasan tidak ada lagi. Walau dinilai kerjaan negatif, dari pada menggangur, kerja harian di Gelper dijalaninya.,” ujar Alex‎.(red)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24