Karimun Tetap Kondusif, Tak Benar Ada Gejolak Soal Izin Pembangunan Gereja





WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Desas desus Kabupaten Karimun tak kondusif karena persoalan izin pembangunan Gereja Katolik Santo Joseph di jalan Yos Sudarso, Tanjungbalai Kota, Kecamatan Karimun, ditepis petinggi lembaga adat setempat.

Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Forum Pembaruan Kebangsaan (FPK) Kabupaten Karimun, H. Abu Samah Haji Arab dengan tegas mengatakan hal itu tidak benar. Ia menyebut saat ini Karimun tetap kondusif.

“Kami masyarakat Kabupaten Karimun ini, setiap saat dan setiap harinya selalu dalam kebersamaan dan kekeluargaan. Sesuai dengan kesepakatan kami, dimana saya sebagai ketua FPK Kabupaten Karimun ini mempunyai prinsip menjadikan Kabupaten Karimun yang kondusif, aman dan damai,” kata dia kepada WartaKepri, Rabu (12/2/2020).

Bahkan, ia melanjutkan, setiap bulan pihaknya rutin menggelar pertemuan dengan dua puluh suku yang netral di Kabupaten Karimun. Dibangun atau tidak Gereja tersebut, kata dia, masyarakat tetap kokoh pada prinsip-prinsip mewujdukan Karimun yang aman, damai dan selalu kondusif.

“Saya mengharapkan kepada pihak-pihak yang terkait pandanglah masalah kearifan lokal, marwah Melayu, serta mayoritas orang-orang suku Melayu, dimana orang-orang Melayu itu sifatnya terbuka dan budaya apapun bisa masuk asalkan sesuai dengan agama, bukan hanya Muslim saja, akan tetapi non-Muslim sesuai dengan agama masing-masing di Karimun,” katanya.

Warga Karimun Tetap Kondusif, terlihat kerukunan saat menghadiri acara Imlek 2020

Dirinya menyebut kalau budaya Melayu tidak pernah menolak dalam bentuk apapun selagi hal itu bertujuan untuk kebaikan dan hal yang positif. Ia bahkan mengatakan kabar yang menyebut Karimun tidak kondusif itu simpang siur, tidak sesuai dengan kenyataan.

“Kita selalu melakukan musyawarah guna mencapai kata mufakat menghadapi permasalahan tersebut,” tambahnya.

Menurut dia, masyarakat yang melakukan aksi demonstrasi terkait itu merupakan hal yang lumrah dan biasa. Apalagi, sambung dia, mereka (Pendemo) itu semuanya juga rekan-rekan yang disebut dia sebagai kawan. Ia bahkan sudah faham betul, dan tidak asing lagi dengan para pendemo itu.

“Saya pribadi sebagai ketua LAM, sekaligus ketua FPK Kabupaten Karimun, sangat setuju dengan ide maupun pendapat dari Bapak Bupati Karimun, bahwa ada solusi Gereja yang ingin dibangun yang di demo oleh masyarakat, dimana yang menyebabkan masyarakat menjadi tidak nyaman, yaitu sebagai Gereja cagar budaya yang disempurnakan dan direnovasi supaya lebih indah dan silahkan tetap untuk melakukan ibadah, serta usulan akan direlokasi ke wilayah yang akan lebih luas lagi yang mana telah disediakan lahan seluas satu hektar, dan silahkan dibangun Gereja yang sebesar-besarnya, setinggi-tingginya, dan seindah-indahnya ditempat lain,” kata dia.

Ia mengatakan solusi dan ide tersebut sangat baik bagi umat Katolik, dan bukan saja untuk hari ini, melainkan sangat bermanfaat hingga 5 bahkan sampai puluhan tahun yang akan datang seiring bertambahnya jumlah umat Katolik di Karimun.

“Dari sekian ribu akan bertambah tiga kali lipat sehingga memerlukan Gereja yang lebih besar,” katanya menambahkan.

Kata dia, jika Gereja yang sekarang ingin dibangun dan direnovasi tersebut, tidak mencukupi dengan akses lalu-lintas jalan serta jumlah jemaat yang akan melaksanakan ibadah, pada intinya, FKPD sendiri sangat atensi dan sudah berbuat luar biasa guna menjaga kondusifitas di wilayah Karimun.

Sementara itu, ditempat terpisah, salah satu tokoh masyarakat sekaligus Ketua Paguyuban Masyarakat Nias Indonesia (PMNI) Kabupaten Karimun, Soginoto Daeli mengatakan umat Katolik di Kabupaten Karimun meminta kepada seluruh umat Katolik yang berada di luar Karimun agar selalu melakukan hal-hal terpuji, karena di Karimun ini selalu dalam keadaan aman dan kondusif. 

“Berhubungan dengan aksi demo yang telah dilakukan sebelumnya tersebut adalah kesalahpahaman. Namun ada solusi yang lebih tepat degan duduk bersama dan berdialog, baik dengan umat Katolik sendiri maupun dengan para pendemo, dan tentunya akan menyepakati hal-hal yang jauh lebih baik lagi terciptanya toleransi,” kata dia.

Lebih jauh pria yang aktif pada kegiatan-kegiatan sosial ini menuturkan bahwa, khusus di wilayah Kabupaten Karimun seperti dirinya yang sudah 22 tahun menetap, dari dahulu Karimun terkenal daerah yang paling aman tidak pernah ada gejolak maupun perselisihan agama, suku, ras, budaya dan adat istiadat.

“Karena di Karimun ini kalau menghargai budaya dan adat istiadat di Bumi Berazam, kita akan selalu aman dan damai, dan menurut saya saudara kita umat Katolik yang berada di luar Karimun ini banyak yang belum mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya, disini kami merasa tenang-tenang saja, hidup rukun dan saling menghargai serta menghormati,” tutup pria yang gemar berolahraga ini. (aziz)



PKP DREAMLAND

FANINDO

DEWAN PERS WARTAKEPRI

PEMPROV KEPRI
PEMKO BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA