Densus 88 Polri Paparkan Farid Okbah dan Ahmad Zain Telah Bantu Pendanaan Teror, Berikut Profil LAZ BM ABA

53
Kabagpenum Div Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan
Kabagpenum Div Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan

WARTAKEPRI.co.id – Detasemen Khusus Densus 88 Polri mengaku belum melihat adanya dugaan pelanggaran Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) atas penangkapan terduga teroris di Bekasi, pada Selasa (16/11). Diketahui, Farid Okbah dan Ahmad Zain telah membantu pendanaan Jamaah Islamiyah (JI) melalui Lembaga Amil Zakat Badan Mal Abdurrahman Bin Auf (LAZ BM ABA).

“Penyidik belum melihat dari pendekatan pidana pencucian uang. Tetapi lebih kepada pendanaan dan aktivitas teror,” kata Kabagpenum Div Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Jumat (19/11/2021).

Ia menjelaskan, terkait dengan pendanaan untuk LAZ BM ABA itu, Densus menerapkan Pasal atau Undang-Undang Nomor 9 tahun 2003 Tentang Pendanaan Terorisme. Selain itu, ia menegaskan, Densus kini lebih fokus terhadap tindak pidana terorisme dalam menangani perkara yang berkaitan dengan Jamaah Islamiyah (JI).

“Saat ini Densus 88 fokus pada tindak pidana terorisme. Dimana di dalamnya termasuk aturan perkara pendanaan teror,” jelasnya.

“Terhadap tiga tersangka tindak pidana terorisme yang diamankan, dikenakan Pasal 15 Jo Pasal 7 UU Nomor 15 tahun 2018 Tentang Terorisme,” tutupnya.

Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror menangkap tiga terduga terorisme pada Selasa (16/11) di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Ketiganya itu yakni bernama Farid Ahmad Okbah (FAO), Anung Al-Hamat (AA) dan Ahmad Zain An-Najah (AZ).

Ketiganya ditangkap di lokasi dan waktu yang berbeda-beda. Densus lebih dulu melakukan penangkapan terhadap Ahmad Zain di Jalan Merbabu Raya di Perumahan Pondok Melati. FAO ditangkap di Jalan Yantera 1, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi dan Anang ditangkap di Pondok Melati, Kota Bekasi.

Visi Misi LAZ ABA

Sementara itu penelusuran dari website https://lazabamalang.business.site/ menampilkan profil LAZ ABA.

LAZ ABA ( Lembaga Amil Zakat Abdurrahman Bin Auf ) adalah lembaga pengelola zakat, infaq dan shodaqoh di bawah Yayasan Abdurrahman Bin Auf berakte No. 22 taggal 21 Oktober 2004 yang disahkan di hadapan Notaris H. Haryanto, SH, MBA.

Lembaga Amil Zakat Abdurrahman Bin Auf mengemban misi kemaslahatan umat dengan menghimpun zakat, infaq dan shodaqoh dari para Muzaki, Aghniya dan Dermawan untuk disalurkan kepada umat Islam yang berhak menerima melalui pengelolaan yang amanah, profesional dan sesuai dengan syariat Islam.

Dalam upaya mewujudkan misi mulia tersebut, Baitul Maal Abdurrahman bin Auf bertumpu pada tiga strategi utama, yakni : penguatan lembaga, optimalisasi program-program penghimpunan dan pendayagunaan dana, dan penguatan jaringan dakwah.

Visi
Menjadi lembaga pengelola zakat, infaq dan shodaqoh yang amanah, profesional dan sesuai dengan syariat Islam.

Misi
Mengoptimalkan pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh dengan mengedepankan kepentingan umat Islam.
Membantu kaum Muslimin dalam menyalurkan zakat, infaq dan kepada mereka yang berhak menerima.
Membangun kemandirian Mustahik agar mampu menjadi Muzaki.
Membantu umat, khususnya Mustahik, melalui program-program pemberdayaan yang transparan, terukur, berdayaguna dan dapat dipertanggung jawabkan dalam mewujudkan kemandirian umat.

Legalitas
SK Kementrian Agama Indonesia No. 2432 Th. 2016
SK Badan Amil Zakat Nasional No. 18 Th. 2016.

Kemenag Telah Cabut Izin

Kementerian Agama telah mencabut izin Lembaga Amil Zakat Baitul Mal Abdurrahman bin Auf (LAZ BM ABA) yang diduga berafiliasi dengan kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI). Karena salah satu anggota non aktif MUI Pusat, Ahmad Zain An-Najah (AZA), diduga tergabung dalam lembaga tersebut. “Kami menyampaikan bahwa LAZ BM ABA ini sudah dicabut izinnya oleh Kemenag sejak Januari 2021,” kata Staf Khusus Kementerian Agama, Nuruzzaman, di Mabes Polri pada Rabu, 17 November 2021.(*)

Sumber : Merdeka/dari berbagi sumber

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
PKP HIMALAYA DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel