WARTAKEPRI.co.id – Di balik keindahan alam yang memukau, di setiap pendakian gunung, ada sosok yang sering terlupakan namun memiliki peran penting. Mereka adalah para porter, pahlawan tanpa tanda jasa yang rela membawa beban berat demi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Porter adalah sosok yang paling lelah dalam proses mendaki gunung, ditengah kelelahan itu mata mereka tetap memancarkan keteguhan.
Sosok tangguh itu ada pada diri seorang Krisjhon berusia 21 tahun dikenal sebagai porter yang berasal dari Siantar Sumatera Utaram. Krisjhon mengaku telah mengabdikan dirinya di gunung Sibuatan selama lebih dari 5 tahun, sejak ia berumur 16 tahun.
Setiap hari, Krisjhon mengangkat beban berat yang bisa mencapai 40 kg, berkeliling menanjak melewati jalan berbatu, untuk membawa barang-barang pendaki dan peralatan ke puncak gunung.
“Kadang saya merasa lelah, tapi saya tahu saya harus terus melangkah. Ini untuk keluarga saya,” ujar Krisjhon dengan suara penuh tekad ke penulis.
Pendakian gunung bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal ketahanan mental. Krisjhon bercerita tentang bagaimana ia harus menahan rasa sakit di tubuh dan menghadapi tantangan alam yang kadang bisa sangat ekstrem.
“Saat cuaca buruk atau medan yang licin, itu bisa sangat berbahaya. Tapi saya tidak punya pilihan lain, saya harus terus maju,” kata Krisjhon sambil menunjukkan bekas luka di kakinya akibat tergelincir saat membawa beban berat.
Setiap langkah di gunung adalah perjuangan. Namun, harapan akan masa depan yang lebih baik untuk keluarganya memberikan motivasi yang tak tergoyahkan.
“Uang yang saya dapatkan dari bekerja sebagai porter digunakan untuk membantu ekonomi orang tua saya,” tuturnya.
Meski pendapatan sebagai porter tidaklah besar, bagi Krisjhon, pekerjaan ini sudah cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
“Meskipun saya tidak kaya, saya bersyukur bisa membantu orang tua saya agar adik-adik saya tetap sekolah. Mereka harus belajar dan punya masa depan yang lebih baik daripada saya,” ucapnya dengan bangga.
Krisjhon bekerja bersama beberapa porter lain, yang semuanya memiliki cerita serupa: mereka berjuang untuk keluarga dan berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik. Meskipun terkadang mereka harus berhadapan dengan risiko besar, mereka tetap bekerja dengan hati.
“Kami bukan hanya membawa barang, kami membawa harapan,” kata Krisjhon dengan senyuman.
BACA JUGA Jejak Kerajaan Indraprahasta di Lereng Gunung Ciremai dan Beberapa Nama Kerajaan di Tanah Sunda
Namun, meski memiliki tekad yang kuat, menjadi seorang porter tidak lepas dari tantangan. Banyak yang belum memahami perjuangan mereka. Terkadang, pendaki tidak menyadari
betapa beratnya pekerjaan yang dilakukan para porter.
Selain itu, cuaca ekstrem dan medan yang sulit membuat pekerjaan ini tidak hanya menguji fisik, tetapi juga mental dan ketahanan jiwa. Di samping itu, tidak sedikit porter yang masih harus menghadapi masalah terkait upah yang tidak stabil dan persaingan yang ketat antar sesama porter.
“Kadang harga yang kami dapatkan sangat kecil, tetapi kami tetap bertahan. Apa lagi yang bisa kami lakukan?” ujar Krisjhon dengan nada pasrah.
Kisah Krisjhon adalah salah satu contoh dari banyak porter yang setiap hari menghadapi tantangan gunung demi menghidupi keluarganya. Beban di punggung mereka adalah simbol pengorbanan, sementara harapan yang ada di hati mereka adalah energi yang mendorong untuk terus bertahan. Mungkin tidak ada banyak orang yang melihat perjuangan mereka, tetapi tanpa mereka, perjalanan para pendaki tidak akan sempurna.
Melalui kisah ini, kita diingatkan untuk lebih menghargai setiap perjuangan di balik puncak yang kita daki. Para porter adalah pahlawan sejati yang mengangkat lebih dari sekadar barang di punggung mereka – mereka mengangkat harapan dan impian yang memberi arti pada setiap langkah yang diambil.(*)
Tulisan : Silvia Anggraini Zein
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Jurusan Ilmu Komunikasi
Editor : Redaksi























