
ANAMBAS – Menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA) yang ke-18 pada 24 Juni 2026 mendatang, sebuah catatan reflektif sekaligus kejutan politik datang dari internal salah satu partai besar di beranda utara Indonesia ini.
Ketua DPD Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Kepulauan Anambas, Indra Syahputra, memberikan pandangan kritis sekaligus apresiasi mendalam terhadap pasang surut perjalanan kabupaten termuda di Provinsi Kepulauan Riau tersebut. Di tengah momentum usia yang mulai beranjak dewasa, Indra mengingatkan bahwa tantangan nyata hari ini adalah ketergantungan fiskal yang akut pada pemerintah pusat.
Mengingat kembali sejarah berdirinya Anambas yang resmi memisahkan diri dari Kabupaten Natuna pada 24 Juni 2008, Indra menyebut status otonom ini didapat lewat darah dan air mata, bukan sebuah hadiah. Ia bahkan sempat mengilas balik pengorbanan besar di masa transisi, termasuk tragedi tenggelamnya kapal yang merenggut nyawa istri dari Penjabat (Pj) Bupati kala itu, almarhum Drs. Yusrizal.
Dalam perjalanannya, Anambas telah melewati estafet kepemimpinan dari tiga Pj Bupati hingga empat era kepala daerah definitif. Drs. Tengku Mukhtaruddin – Abdul Haris, SH, Abdul Haris, SH – Wan Zuhendra (Dua Periode) dan Aneng – Raja Bayu Febri Gunadian, SE (Periode Saat Ini)
“Dinamika pembangunannya luar biasa. Kita pernah merasakan tidak punya APBD di awal, lalu merangkak ke angka Rp396 Miliar di 2009, menyentuh Rp720 Miliar di 2010, hingga akhirnya sempat menembus angka di atas Rp1 Triliun,” kenang pria yang akrab disapa Bang Indra tersebut, Jumat (12/06/2026).
Lompatan anggaran itu, menurut suami dari Shinta Ira Fronia ini, telah mengubah wajah Anambas secara signifikan. Infrastruktur jalan mulai terkoneksi, antarpulau dirangkai, program beasiswa dikucurkan, hingga fasilitas sekolah dan seragam gratis serta layanan kesehatan gratis dinikmati masyarakat.
Namun, dinamika global dan nasional saat ini membawa dampak serius bagi daerah perbatasan. Indra dengan jujur mengakui kondisi keuangan daerah saat ini sedang “tidak baik-baik saja.” Minimnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) membuat postur anggaran Anambas sangat rentan terhadap kebijakan pusat.
Menyikapi hal ini, Indra memberikan catatan strategis bagi roda pemerintahan saat ini. Ia menyarankan agar pemerintah daerah tidak lagi bersikap APBD-sentris.
“Momemtum usia 18 tahun ini harus jadi pemicu untuk mengangkat kembali ruh daerah. Pemerintah tidak bisa lagi sekadar berharap pada APBD. Harus ada upaya agresif menarik investor luar sebagai suntikan nafas baru untuk menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Di tengah refleksi menyambut hari jadi kabupaten, Indra Syahputra justru membawa kabar mengejutkan terkait peta politik lokal. Ia secara resmi menyatakan pamit dan memastikan diri tidak akan maju kembali dalam bursa pemilihan Ketua DPD Golkar Anambas yang akan segera digelar dalam waktu dekat.
“Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin pamit sekaligus memohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah kata maupun perbuatan selama saya memimpin Partai Golkar di Anambas, namun saya masih tetap di partai Golkar, ” ungkapnya secara personal.
Keputusan tidak ikut lagi kontestasi bursa Ketua DPD Golkar Kepulauan Anambas ini tentu memantik tanda tanya mengenai arah konsolidasi berlambang pohon beringin tersebut ke depan. Kendati demikian, Indra menutup pernyataannya dengan optimisme tinggi agar daerah yang ia pimpin selama ini tetap kokoh di garda terdepan NKRI.
“Selamat ulang tahun ke-18 untuk Kabupaten Kepulauan Anambas yang kita cintai. Semoga Anambas tetap menjadi daerah yang maju, mandiri, dan sejahtera di wilayah perbatasan,” pungkasnya. (*)






























