Home Batam Spatial Indonesia Resmi Dideklarasikan, Dorong Pengembangan Ekosistem Teknologi Spatial di Indonesia

Spatial Indonesia Resmi Dideklarasikan, Dorong Pengembangan Ekosistem Teknologi Spatial di Indonesia

Organisasi nirlaba Spatial Indonesia resmi dideklarasikan untuk memperkuat ekosistem teknologi spasial teknologi yang menghubungkan dunia fisik dan digital, melalui kolaborasi lintas sektor.(Foto: Istimewa)
Banner DPRD Batam 2026

WhasApp

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Perkembangan teknologi digital yang semakin mengarah pada interaksi antara dunia fisik dan digital mendorong lahirnya berbagai inovasi baru, salah satunya Spatial Technology.

Melihat peluang tersebut, organisasi dan komunitas nirlaba Spatial Indonesia resmi dideklarasikan sebagai wadah kolaborasi untuk memperkuat ekosistem teknologi spatial di Indonesia.

Spatial Indonesia akan mempertemukan berbagai pihak, mulai dari talenta digital, akademisi, peneliti, perusahaan teknologi, startup, industri, pemerintah hingga investor.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendorong penelitian dan pengembangan teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penerapan teknologi di industri, hingga penciptaan peluang ekonomi baru.

Teknologi yang menjadi perhatian Spatial Indonesia mencakup Spatial Computing, Artificial Intelligence (AI), Extended Reality (XR), Digital Twin, Robotics, Computer Vision, 3D Technology, Internet of Things (IoT), Game Technology serta berbagai teknologi yang berkaitan dengan transformasi menuju Industry 5.0.

Secara sederhana, Spatial Technology merupakan kumpulan teknologi yang memungkinkan komputer memahami, memetakan, mensimulasikan atau berinteraksi dengan ruang dan lingkungan fisik.

Teknologi ini tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat perpaduan berbagai bidang seperti AI, computer vision, AR/VR/MR, sensor, robotics, 3D technology, IoT, cloud computing hingga digital twin.

Penerapannya dapat ditemukan dalam berbagai bidang. Misalnya, teknologi AR dan VR dapat digunakan untuk pendidikan dan pelatihan.

Digital Twin dapat membantu industri membuat representasi digital dari mesin atau fasilitas sebelum melakukan perubahan di dunia nyata. Sementara computer vision dan robotics dapat dimanfaatkan untuk otomasi, manufaktur dan berbagai kebutuhan industri.

Dengan demikian, perkembangan Spatial Technology tidak hanya berkaitan dengan perangkat canggih, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Pendiri sekaligus Ketua Umum Spatial Indonesia, Ari Nugrahanto, menjelaskan, perkembangan teknologi spatial secara global membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga ikut menciptakan dan mengembangkan teknologi tersebut.

“Spatial Indonesia didirikan dengan satu tujuan, yaitu mengambil momentum berkembangnya teknologi spatial di dunia sekaligus menjadi wadah berkumpulnya seluruh talenta Indonesia untuk melakukan penelitian dan pengembangan, pelatihan, pendampingan usaha sampai dengan penyaluran tenaga kerja,” terang Ari, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Ari, keberadaan ekosistem yang mempertemukan talenta, peneliti, industri dan investor menjadi penting agar perkembangan teknologi tidak berhenti pada tahap pembelajaran.

“Melalui kolaborasi, pengetahuan dapat dikembangkan menjadi penelitian, penelitian dapat menghasilkan prototipe, dan prototipe selanjutnya dapat diarahkan menjadi produk maupun solusi yang dapat digunakan masyarakat dan industri,” ujar Ari.

Salah satu tantangan dalam perkembangan teknologi baru kata Ari adalah ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan industri.

“Karena itu, Spatial Indonesia menjadikan Talent Development sebagai salah satu misi utama. Program pengembangan talenta akan diarahkan melalui berbagai kegiatan seperti berbagi pengetahuan, pelatihan, mentoring, sertifikasi dan pengalaman praktis bersama industri,” pungkasnya.

Selain meningkatkan kemampuan teknis, masih kata Ari, pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki talenta dengan kebutuhan dunia kerja.

“Spatial Indonesia juga membawa konsep Talent-to-Industry Connection, yakni membangun hubungan antara talenta dan industri melalui internship, project-based learning, professional placement hingga penyaluran tenaga kerja,” beber Ari.

Ari Nugrahanto mengatakan pembangunan ekosistem teknologi tidak dapat dilakukan oleh satu organisasi saja.

Karena itu, menurutnya, Spatial Indonesia membuka peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi nasional maupun global, institusi pendidikan, pusat penelitian, pemerintah dan investor.

“Dukungan yang dibutuhkan juga tidak terbatas pada pendanaan. Kolaborasi dapat dilakukan dalam bentuk penyediaan hardware, software, cloud resources, fasilitas penelitian, platform teknologi, pelatihan, mentoring, beasiswa, akses teknologi, studi kasus industri hingga joint research and development,” ucap Ari.

Dengan model tersebut, masing-masing pihak diharapkan memperoleh manfaat.

Ia menambahkan, talenta memperoleh kesempatan belajar dan berkembang, industri mendapatkan akses terhadap sumber daya manusia serta inovasi, perusahaan teknologi memperoleh ruang untuk memperluas ekosistem teknologi, sedangkan investor dapat menemukan peluang bisnis dan startup baru.

“Spatial Indonesia melihat teknologi spatial sebagai salah satu bagian penting dalam transformasi industri menuju era Industry 5.0, yaitu perkembangan industri yang semakin menggabungkan teknologi dengan kemampuan dan peran manusia,” jelas Ari.

Ke depan, bidang yang menjadi perhatian organisasi ini antara lain:

• Spatial Computing
• AI dan Computer Vision
• AR, VR, MR dan XR
• Digital Twin dan Simulation
• 3D serta Real-Time Technology
• Robotics dan Autonomous Systems
• IoT dan Edge Computing
• Game Technology dan Game Industry
• Smart Factory dan Industry 5.0
• Spatial Learning dan Immersive Education

Ruang penerapannya pun cukup luas, termasuk pendidikan, manufaktur, kesehatan, konstruksi, arsitektur, pariwisata, hiburan, pelatihan tenaga kerja, desain produk hingga pengembangan kota dan infrastruktur.

“Spatial Indonesia membawa visi menjadi ekosistem terdepan di Indonesia dalam pengembangan Spatial Technology, Game Technology dan Immersive Digital Experiences melalui kolaborasi talenta, riset, inovasi, industri dan investasi,” katanya.

Ia berujar, untuk mencapai visi tersebut, organisasi ini membawa lima misi utama, yakni Research and Innovation, Talent Development, Industry & Business Enablement, Talent-to-Industry Connection, serta Global Collaboration & Investment.

“Pendekatan yang digunakan adalah membangun platform yang bersifat netral, terbuka dan kolaboratif, sehingga berbagai pihak dapat berkontribusi sesuai kompetensi dan kebutuhannya,” lanjutnya.

Semangat yang diusung Spatial Indonesia dirangkum dalam tiga kata, yakni Explore, Create dan Transform.

Explore berarti mengeksplorasi teknologi dan peluang baru. Create berarti menciptakan pengetahuan, inovasi, produk dan talenta. Sedangkan Transform berarti membawa teknologi tersebut menjadi solusi yang memberikan dampak nyata bagi industri dan masyarakat.

“Pada akhirnya, keberhasilan teknologi spatial tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih perangkat yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan manusia untuk mengembangkan dan memanfaatkannya,” ujar Ari.

Dengan hadirnya Spatial Indonesia, pengembangan teknologi spatial diharapkan dapat bergerak dari sekadar tren teknologi menjadi ekosistem yang menghasilkan pengetahuan, talenta, inovasi, lapangan kerja, usaha baru dan solusi bagi berbagai persoalan di Indonesia.

“Spatial Indonesia merupakan organisasi dan komunitas nirlaba yang dibentuk untuk membangun ekosistem Spatial Technology di Indonesia melalui riset, inovasi, pengembangan talenta, kolaborasi industri, kewirausahaan dan investasi,” katanya.

Organisasi ini mengembangkan berbagai bidang, antara lain Spatial Computing, AI, XR, Digital Twin, Robotics, Computer Vision, 3D Technology, IoT, Game Technology serta teknologi terkait Industry 5.0.

“Bagi mahasiswa dan talenta pemula, pendekatan ini dapat menjadi kesempatan untuk memperoleh pengalaman mengerjakan proyek nyata sekaligus memahami kebutuhan industri,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Spatial Indonesia, Muhammad Tafani Rabbani, mengatakan, organisasi tersebut tidak ingin berhenti pada deklarasi, tetapi telah menyiapkan sejumlah program yang akan mulai dijalankan dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Pengembangan Inovasi. Membuka peluang sinergi antara startup, perusahaan teknologi, dan investor untuk merancang solusi digital berbasis ruang (spatial).(Foto: Istimewa)

Tiga program awal yang diperkenalkan adalah SpaRing, Stup dan SpaceThon.

1. SpaRing – Spatial Sharing

SpaRing merupakan forum berbagi pengetahuan mengenai perkembangan teknologi spatial.

Kegiatan ini akan menghadirkan praktisi, akademisi, peneliti dan pakar industri untuk membahas perkembangan teknologi, hasil penelitian, pengalaman implementasi maupun peluang baru.

Bagi masyarakat umum, kegiatan seperti ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami teknologi spatial tanpa harus langsung memiliki latar belakang teknis yang mendalam.

2. Stup – Spatial Meetup

Stup atau Spatial Meetup dirancang sebagai forum networking dan kolaborasi.

Kegiatan ini mempertemukan komunitas, talenta, startup, industri, perusahaan teknologi dan pemangku kepentingan dalam suasana yang lebih informal.

Konsep tersebut diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi baru, termasuk mempertemukan orang dengan keahlian yang berbeda untuk mengembangkan sebuah proyek atau solusi.

3. SpaceThon – Spatial Hackathon

SpaceThon merupakan program pengembangan solusi berbasis Spatial Technology melalui kompetisi dan kolaborasi lintas disiplin.

Peserta akan diarahkan untuk menyelesaikan real-world problems, mengembangkan prototipe dan mengeksplorasi kemungkinan penerapannya di industri.

“Program semacam ini juga dapat menjadi sarana bagi talenta untuk membangun portofolio karena peserta tidak hanya mempelajari teori, tetapi ditantang menghasilkan solusi yang dapat ditunjukkan secara nyata,” ungkap Rabbani.

Perkembangan Spatial Technology juga membuka peluang bagi sektor bisnis.

“Industri dapat memanfaatkan teknologi spatial untuk berbagai kebutuhan, mulai dari simulasi, desain, pelatihan, pemeliharaan, visualisasi, otomasi hingga pengembangan produk baru,” ucap Rabbani.

“Sementara bagi startup, perkembangan teknologi ini dapat membuka ruang untuk menciptakan layanan dan model bisnis baru,” tambah Rabbani.

Spatial Indonesia kata Rabbani, berupaya menjadi penghubung antara kebutuhan industri dengan kemampuan talenta dan inovasi yang dikembangkan oleh komunitas maupun akademisi.

“Melalui kolaborasi antara komunitas, akademisi, industri, perusahaan teknologi, pemerintah dan investor, Spatial Indonesia menargetkan terbentuknya platform nasional untuk belajar, meneliti, menciptakan, mengimplementasikan dan mengembangkan teknologi spatial bagi Indonesia dan dunia,” tandasnya.

Penulis: Azis
Editor: Azis

 

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026