
WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam memperkuat kemitraan dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melalui dukungan terhadap pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
Dukungan tersebut disampaikan Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, saat menjadi narasumber dalam UKW PWI Kepri di Balairung Sari BP Batam, Jumat (18/9/2026).
Ariastuty menilai peningkatan kompetensi wartawan merupakan bagian penting dalam membangun kualitas pers sekaligus menghadirkan informasi yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
“BP Batam sangat mendukung PWI Kepri dalam melaksanakan UKW ini. Kami berharap PWI Kepri dapat terus meningkatkan profesionalisme wartawan, sehingga pemberitaan yang disampaikan kepada masyarakat semakin positif, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Ariastuty.
Menurutnya, PWI Kepri selama ini menjadi salah satu mitra strategis BP Batam dalam menyampaikan berbagai informasi kepada publik. Karena itu, peningkatan kapasitas dan profesionalisme wartawan dinilai penting untuk memperkuat kualitas hubungan kemitraan tersebut.
“Ini sangat penting bagi dunia pewartaan, bagaimana PWI Kepri mewujudkan wartawan-wartawan yang berkualitas dalam membuat berita. Kami mengucapkan selamat kepada PWI Kepri atas pelaksanaan UKW ini dan berharap kerja sama yang telah terjalin dapat terus berjalan dengan baik,” katanya.
Ariastuty juga menyampaikan apresiasi kepada PWI Kepri yang telah menjalankan kepengurusan periode 2023-2028. Ia berharap hubungan kemitraan antara BP Batam dan PWI Kepri semakin kuat, terutama dalam menghadirkan pemberitaan yang kredibel dan informatif bagi masyarakat.
36 Wartawan Ikuti UKW PWI Kepri
UKW PWI Kepri mengusung tema “Menegakkan Integritas dan Profesional Pers demi Menjaga Marwah Negeri” dan berlangsung selama dua hari, 18-19 September 2026.
Sebanyak 36 wartawan mengikuti ujian yang terbagi dalam tiga jenjang, yakni 15 peserta jenjang Muda, 14 peserta Madya, dan tujuh peserta Utama.
Direktur UKW PWI, Aat Surya Safaat, menjelaskan peserta jenjang Muda dan Madya menghadapi masing-masing 11 mata uji. Sementara peserta jenjang Utama mengikuti 10 mata uji.
Aat mengingatkan peserta agar memberikan perhatian serius terhadap materi hukum pers, Kode Etik Jurnalistik, serta berbagai peraturan dan ketentuan yang berkaitan dengan pers.
Materi tersebut telah diberikan dalam kegiatan pra-UKW. Namun, peserta tidak hanya dituntut menghafal ketentuan, melainkan memahami dan mampu menerapkannya dalam menjalankan tugas jurnalistik.
“Yang paling penting adalah mata uji 1.1, 2.1, dan 3.1 yang berkaitan dengan hukum pers, Kode Etik Jurnalistik, serta peraturan dan ketentuan yang berkaitan dengan pers,” ujar Aat.
Proses Uji UKW
Selain pemahaman terhadap regulasi dan etika, kemampuan mengolah informasi menjadi berita juga menjadi bagian penting dalam UKW.
Pada jenjang Muda, misalnya, peserta diuji menulis berita berdasarkan hasil wawancara atau doorstop. Informasi yang diperoleh tidak cukup sekadar dituangkan kembali dalam bentuk tulisan, tetapi harus dikembangkan menjadi berita yang utuh.
Aat menekankan pentingnya kemampuan wartawan memperkaya informasi dengan mencari keterangan tambahan, menghadirkan narasumber lain, maupun mengaitkannya dengan pernyataan yang pernah disampaikan sebelumnya.
“Peserta juga harus mampu memperkaya informasi. Misalnya mencari informasi tambahan, mencantumkan narasumber lain, atau mengaitkan dengan pernyataan yang pernah disampaikan sebelumnya,” jelasnya.
Menurut Aat, berita yang baik harus mampu menyajikan informasi yang cukup dan berimbang. Kemampuan menggali serta mengembangkan informasi tersebut menjadi salah satu indikator kompetensi seorang wartawan.
Untuk penulisan feature, peserta juga diingatkan tidak terpaku pada pola penulisan berita langsung. Feature memberikan ruang yang lebih luas dalam mengembangkan sudut pandang dan gaya penulisan, selama tetap berpegang pada prinsip jurnalistik.
“Feature tidak terikat secara ketat pada pola 5W+1H seperti berita langsung. Feature dapat dimulai dari sesuatu yang atraktif dan diakhiri dengan sesuatu yang impresif,” katanya.
Sementara dalam penulisan tajuk, peserta dituntut mampu memahami persoalan secara utuh. Mulai dari kebijakan perusahaan, kebijakan pemerintah hingga berbagai fenomena yang berkembang di tengah masyarakat.
Tajuk merupakan tulisan yang mencerminkan pandangan atau sikap redaksi terhadap suatu persoalan. Karena itu, pemahaman terhadap isu menjadi bagian penting sebelum wartawan menuangkannya ke dalam tulisan.
Aat menilai kemampuan menulis berita, feature dan tajuk menjadi bagian penting dalam membentuk wartawan yang profesional.
Ia kemudian mengutip ungkapan filsuf Prancis, “Aku berpikir karena aku menulis.”
Menurutnya, ungkapan tersebut relevan dengan profesi wartawan yang dituntut mampu berpikir kritis, mengolah informasi, kemudian menyajikannya dalam tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Aat juga meminta seluruh peserta mengikuti UKW dengan percaya diri dan tetap menjunjung tinggi integritas.
“Kalau saya melihat wajah para peserta, semuanya tampak optimistis. Kalau kita optimistis dan memancarkan optimisme itu kepada alam, maka alam akan kembali memancarkan energi positif kepada kita,” tutupnya.(*)
Editor Dedy Suwadha




























