Nekad Pacari Anak Pengusaha Taxi, Faris Dipukul dan Dipenjara

322
Sidang pacari anak pengusaha

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Dua sejoli yang sedang merajut asmara yaitu Faris (20) dan RN (17) harus berakhir di sel tahanan Batam. Keduanya sudah saling menyayangi dan sudah punya rencana untuk membentuk satu rumah tangga baru.

Namun asmara dan kasih sayang keduanya ditolak orang tua RN, lantaran RN masih berusia muda dan latar belakang ekonomi RN lebih berada sedikit dibanding orang tua Faris.

Jauh sebelumnya, orang tua Faris sudah pernah bertemu secara kekeluargaan dengan orang tua RN untuk membicarakan lebih lanjut hubungan anaknya. Dalam pertemuan tersebut, orang tua Faris menyampaikan permintaan agar kedua sejoli ini dinikahkan saja untuk mengantisipasi gunjingan orang.

Permintaan orang tua Faris, yang sudah lama menjanda ditinggal mati suaminya ditolak langsung oleh orang tua RN. Karena orang tua RN ini merupakan seorang pengusaha Taxi dan tinggal di perumahan elit di kawasan Duta Mas Batam Center.

Niat dan tekat bulat Faris ingin mempersunting RN sebagai kekasihnya maupun sebaliknya, tinggal kenangan dan malah menjadi terdakwa. Asmara keduanya diganjal orang tua dan abang RN, dengan cara menangkap Faris dirumahnya pada malam hari lalu memukuli, menyeret dan menyiksa yang disaksikan temannya. Terang Sahat Pakpahan SH.

Atas kekejaman dan tindakan melawan hukum tersebut, orang tua Faris Prayogo melakukan perlawanan dengan mengajukan permohonan praperadilan penangkapan melalui kuasa hukumnya saat itu, Bernad Uli Nababan.

Akan tetapi, soal tindakan penyiksaan dan pemukulan yang dilakukan abang RN, Doni dan Rudi terus berlanjut. Dimana sebelumnya orang tua Faris sudah melaporkan ke Polsek Batam Kota, namun tidak diproses dan kini laporan tersebut ditangani Polresta Barelang. Kata Sahat Pakpahan SH, selaku Kuasa Hukum Faris Prayogo, Rabu (15/6/2016).

Tiga saksi dari pemohon dalam sidang praperadilan sebelumnya yaitu ; Anggono (ibu kandung Faris Prayogo), Putra dan Arisandi. Sedangkan saksi dari termohon, yakni Doni, Rudi dan Jhon Kenedy. Masing-masing saksi memberikan keterangan di bawah sumpah di hadapan hakim tunggal Vera Yetty Simanjuntak SH.

Menurut keterangan saksi Putra mengatakan, pada 15 Februari 2016 sekitar pukul 19.30 WIB, Faris bersama empat orang temannya, mengendarai satu mobil Honda Civic tiba di rumahnya Perumahan KDA, Batam Center. Faris bersama Yandi masuk ke rumah, dan tiga orang lainnya menunggu di dalam mobil.

“Faris langsung naik ke lantai II untuk ganti baju. Saya dan Yandi ngobrol di lantai I,” kata Putra saat itu.

Selesai ganti baju, kata Anggono, ibunda Faris, ia sempat ngobrol dengan Faris. Dimana Faris pamit mau ke luar lagi bersama kawannya yang menunggu di dalam mobil. “Saya sempat kasih Rp20 ribu,” ujar Janda seorang anak itu.

Setelah Faris bersama Yandi masuk ke rumah, datang tiga pria yang tidak dikenal menggunakan mobil Mitsubishi Storm dan mencari Faris.

“Faris masih di tangga turun dari lantai II, sudah dipukuli dan diseret dipaksa masuk ke mobil. Ada seorang yang mengancam akan menembak kalau Faris tak mau masuk ke mobil. Dengan kondisi luka-luka dan berdarah, Faris langsung dibawa ketiga pria itu,” kata Putra.

Ancaman dengan ucapan “aku tembak kau” yang dilontarkan satu dari tiga pria yang menyeret Faris, juga didengar ibu kandung Faris, Anggono. Yang saat itu berada di lantai II rumahnya, sehingga ancaman itu membuatnya trauma dan sangat ketakutan.

Lanjut Putra, ketiga pria yang menyeret Faris itu sama sekali tidak permisi dan tidak memperkenalkan diri dari mana. Apalagi, ketiganya saat itu tidak menggunakan seragam atau hanya memakai baju biasa.

“Kami tak tahu ketiga pria itu siapa dan apa permasalahannya. Langsung masuk, mukul dan nyeret masuk ke mobil,” kata Putra.

Sementara saksi Arisandi hanya menjelaskan sebagai pemilik mobil Honda Civic yang digunakan Faris dan empat rekannya. Setelah Faris dibawa, besoknya ia bersma Putra dan ibu Faris melakukan pencarian.

“Kami melihat mobil saya sudah terparkir di Polsek Batam Kota. Saya tak tahu apa permasalahnnya,” kata Arisandi.

Sementara abang kandung RN yang dihadirkan sebagai saksi Doni dan Rudi mengakui merekalah pelaku pemukulan dan penyeretan yang mendatangi dan menjemput Faris dari rumahnya. Doni dan Rudi bersama seorang lainnya bukan Polisi melainkan masyarakat sipil.

“Faris, kami bawa ke rumah di Duta Mas. Sekitar pukul 22.30 WIB kami antar ke Polsek Batam Kota. Saat mau melapor, polisi menyuruh untuk dilakukan visum dulu terhadap Rn,” kata Doni.

Menurut Doni, anjuran polisi itu mereka ikuti. RN langsung dibawa ke rumah sakit Awal Bros Batam untuk visum. Besok harinya, sekitar pukul 01.00 WIB, Doni kembali mendatangi Polsek Batam Kota untuk membuat laporan dugaan pencabulan yang dilakukan Faris.

“Hasil visum langsung saya bawa dan serahkan ke polisi,” kata Doni enteng.

Sementara Jhon Kenedy, anggota Polsek Batam Kota yang juga Ketua RW di Perumahan KDA Batam Center mengatakan, sudah berusaha mengantar surat penangkapan dan penahanan Faris kepada keluarganya. Tetapi, upaya itu gagal lantaran keluarga Faris tak bisa ditemui.

“Saya sudah coba menghubungi keluarga Faris langsung ke rumahnya dan melalui RT, tapi tak ada tanggapan,” katanya.

Nasib Faris kini ditangan penegak hukum dalam hal ini kebijaksaan dan hati kecil dari Jaksa Penuntut Umum, Isnan SH dan Majelis Hakim Zulkifli SH didampingi Hera Polosia Ritongga SH dan Iman Budi Putra SH.

PKP HIMALAYA DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel