Urang Minang yang Pulang Kampung, Jangan Lupa ke Makam Syekh Burhanuddin

2215
Warta foto makam Syekh Burhanuddin di Padang Pariaman

WARTAKEPRI.co.id, SUMBAR – Nagari Ulakan Tapakis Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat, terdapat sebuah makam tua yang telah berusia lebih kurang 321 tahun. Konon dimakam itu, terkubur jasad seorang ulama besar yang terkenal dengan nama Syekh Burhanuddin. Berdasarkan sejarah, Syekh Burhanuddin dengan nama kecil Kanon atau ada sumber menyebut Pono, merupakan seorang penyebarluas pertama Agama Islam di Pariaman.

Beliau menghembuskan nafas terakhir di usia 85 tahun pada 10 Safar 1111 H. Safar yang artinya menyatukan paham, pada dahulunya lebih dikenal dengan pengajian Takziah. Sebutan Safar terbentuk atas kesepakatan Alim Ulama, yaitu melewati hari ke 10 yang bertepatan pada hari Rabu Bulan Kamsiyah.

Pada hari Rabu itulah, bertepatan dengan meninggalnya Syekh Burhanuddin, adalah hari yang biasanya paling ramai di datangi para pengunjung yang hendak berziarah ke makam beliau. Diperkirakan, mencapai ratusan orang pengunjung yang datang setiap harinya. Bukan hanya dari Indonesia saja, bahkan turis mancanegara pun membanjiri turut berziarah ke makam ini.Batu Hampa

Honda Capella

Selain itu, disekitar makamnya, juga terdapat makam-makam para pengikutnya yang senantiasa selalu menemani beliau hingga akhir hayat. Disana juga terlihat Batu Hampar yang menurut cerita dulunya digunakan oleh Syekh Burhanuddin pada saat memukul kemaluannya ketika dihadapkan dengan ujian terakhir yang diberikan oleh sang guru.

Menurut sumber yang berada dilokasi makam tersebut, Batu Hampar tersebut mempunyai tuah atau mukjizat. Apabila batu itu disirami dengan air, kemudian diusapkan ke kepala, niscaya akan bisa menghilangkan segala rasa sakit yang ada di kepala.

Berdasarkan catatan sejarah, Syekh Burhanuddin merupakan orang yang pertama kali menoreh sejarah tidak pernah kawin di Pariaman. Kanon ataupun si Pono, anak dari pasangan Sikapak (Bapak) dan Sikukuik atau Cukiyah (Ibu), pertama kali belajar tentang Islam oleh utusan dari Madinah yang bernama Ayah Hiddin. Beliau adalah guru pertama yang mengajarkan Agama Islam bidang Pekah (Pekih) kepada si Kanon.

Setelah memberikan pelajaran ilmu pengajian tentang Islam, Ayah Hiddin meninggalkan amanat kepada si Kanon. Dimana dalam amanat itu, Ayah Hiddin berkata bahwa nanti sepeninggal dirinya, tolong pelajaran pengajian yang telah diberikannya selama ini dilanjutkan ke Aceh tepatnya di Kuala.

Seiring berjalannya waktu, di Aceh si Kanon bertemu serta belajar banyak dengan seorang guru yang bernama Bundo Ra’uf selama 30 tahun. Selepas belajar disanalah, si Kanon dianugerahi nama atau sebutan Syekh Burhanuddin yang diberikan oleh gurunya tersebut.

Namun sangat disayangkan, peninggalan bersejarah ini kian redup pasca terjadinya kebaran yang melanda makam tua itu pada Bulan April 2016 yang lalu. Akibat kebakaran, sejumlah lokasi komplek makam Syekh Burhanuddin dinyatakan nyaris ludes dilahap sijago merah. Semoga pemerintah setempat bisa kembali memperbaiki komplek makam penyiar pertama agama Islam itu, dan masyarakat sekitar pun juga mampu menjaga kehadiran makam tua yang bersejarah tersebut. ( M. Ichsan)

Narasumber: Hadi Imam Paman, seorang pelayan di makam Syekh Burhanuddin/ tulisan M.Ichsan yang pernah dipublikasi Nusataranews/ foto istimewa

 

FANINDO