Ketika Guru Jadi “Robot” dan Korban Kebijakan Politisi

Suasana di SMP Negeri 12 Batam saat hari pertama sekolah tahun 2016 lalu





WARTAKEPRI.co.id – Saya bukan guru, tapi pendidikan terakhir saya sarjana pendidikan teknik yang lulus 16 tahun lalu dari perguruan tinggi di Sumatera Barat. Bukan karena tidak suka menjadi guru, tetapi memang diawal tamat kuliah, gaji guru terbilang cukup tapi juga tidak tinggi sekali.dedy suwadha pimred wartakepri.co.id 2

Kebanyak kawan saya menjadi guru yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di Provinsi Kepri. Sebagian kecil yang berprofesi sebagai pengusaha atau praktisi lainnya.

Peran guru pun mulai dirilik paska reformasi. Buahnya, perjuangan mahasiswa untuk alokasi anggaran untuk pendidikan di Indonesia sebesar 20 persen dari anggaran belanja nasional disetujui.

Singkat kata, gaji guru sudah sangat memuaskan terutama yang tercatat sebagai pegawai negeri atau alat negara.

Guru tidak saja mendapat gaji pokok sesuai UMK, pendapatan guru juga dihargai sesuai golongan, jabatan dan juga berapa banyak sertifikat yang mereka miliki. Kehidupan guru mulai seperti profesi yang hampir sama dengan pekerjaan dokter dan pengacara.

Guru mulai bisa memberikan pilihan hidup bagi anak-anak nya apakah mau melanjutkan ke sekolah mana dan dimana. Kalau bicara fasilitas, jika sebelum reformasi untuk membeli rumah saja tidak mampu, kini guru mendapat kemudahan untuk memiliki rumah. Hal yang wajar karena telah mengabdi kepada negara.

Sosok Robot

Namun, kebahagian guru saat ini juga tidak seenak mengajar pada Zaman sebelum reformasi. Guru tidak lagi boleh memarahi siswa, atau melakukan pendidikan yang keras kepada calon siswa.

Guru akan berhadapan dengan laporan demi laporan ke polisi, jika saja sang anak didik dicubit atau mengalami kekerasan.

Jika sebelum reformasi guru sangat dihormati oleh orang tua dan anak didik, kalau saat ini dimata orang tua, guru hanya sosok “robot” ketika didalam kelas membuka buku lalu mengajarkan teori  di dalam kelas.  Robot dalam artian, guru bekerja sesuai aturan yang telah dibuat negera. Melanggar dari aturan, maka sanksi akan menunggu.

Entah mau pintar sang anak didiknya atau tidak,  dapat dilihat dari hasil akhir kenaikan kelas atau terima rapor semester. Dan, bagi sebagian orang tua yang sangat ingin anaknya mendapat nilai memuaskan, maka fasilitas tambahkan belajar berbayar, alias les dengan guru mata pelajar atau guru kelas, mutlak harus dilakukan.

Bagi siswa yang orang tua cuek atau tidak ingin anaknya mendapat nilai bagus, maka les tambahan mungkin tidak perlu, dan merasa cukup belajar dalam satu kelas dengan siswa mencapai 40 orang.

” Itu belajar apa wirid pengajian,  kalau satu kelas mencapai lebih 40 orang di sekolah negeri. Normalnya kan 25 sampai 30 siswa,” celoteh kawan saya yang bukan guru.

Permainan Politisi

Dalam pemikiran guru yang tersirat dan yang saya tangkap, profesi menjadi guru saat ini menjadi profesi yang saling sikut menyikut antara sesama guru agar mendapatkan posisi yang layak dimata Walikota, Bupati dan Gubernur.

Jumlah guru ribuan saat ini, baik yang status pegawai negeri ataupun swasta ladang empuk bagi politisi untuk mensosialisasikan wajah wajah politisi dimasa pemilu. Terutama guru-guru yang mengajar di sekolah menengah umum.

Dalam teori belajar mengajar, untuk mendapat siswa yang berprestasi maka sekolah harus melakukan seleksi ketat agar tamatan siswa nanti juga berpresati juga.

Sayang, di beberapa tahun terakhir, keluhan demi keluhan yang dengar dari kawan kawan yang mengajar di sekolah-sekolah negeri, terutama di Kota Batam.

Dapat informasi, tahun ajaran baru 2016/2017 kapasitas sekolah negeri telah melabihi kuota ideal jumlah siswa dalam kelas.

Pimpinan sekolah tidak berani menolak siswa yang semestinya tidak layak sekolah negeri karena nilai rendah, terpaksa diterima sekolah dengan berbagai alasan. Menolak berarti terancam jabatan.

Alasan, orang tua tetap yakin anaknya diterima di sekolah negeri tersebut walau nilai anak rendah, karena aturan-aturan yang memudahkan, serta bantuan kolega.

Belum lagi, dorongan oknum  pejabat dan oknum politisi tertentu  yang pihak sekolah tidak bisa menolak anak titipan dan wajib bisa diterima sekolah.

” Luar biasa tahun ini, kapasitas penerimaan siswa semua melebih jumlah lokal. Mau tidak mau kami terima, karena sudah diminta seperti itu. Walau nanti kasihan kepada siswa nantinya. Banyaknya siswa baru yang diluar aturan ini, akan berdampak pada proses belajar mengajar. Memang gaji  memuaskan saat ini, tapi jam kerja bertambah, belum lagi pengawasan siswanya yang mungkin tidak terawasi sebanyak itu,”ujar seorang guru SMU di Batam

Berdesak desakan orang tua ingin anaknya masuk ke sekolah negeri, mungkin berdampak pada kurangnnya minat orang tua memasukan anak ke sekolah swasta. Apakah jumlah siswa baru di sekolah swasta berkurang saat ini, patut juga ditelusuri.

Guru kini tidak lagi slogannya, Pahlwan Tanpa Tanda Jasa. Dalam pemikiran saya, guru kini telah menjadi profesi yang setara dengan profesi profesi lainnya.

Kalau ada guru yang masih mendapat gaji dibawah rata-rata, itu adalah nasib guru honorer, yang digaji sesuai jam mengajarnya. Dengan penghasilan yang diterima saat ini, wajar juga tuntutan besar dan tugas berat diberikan kepada guru.

Guru jangan lagi mengeluh kalau pulang mengajar terlalu lama ke rumah. Jika dulu pulang mengajar bisa jam 1 siang, kini jam mengajar guru wajar kalau pulang mendekat pukul 4 atau 5 sore.

Khusus bagi guru pegawai negeri, Anda pelayan masyarakat, Anda digaji oleh rakyat. Tunjukan pengabdian Anda kepada rakyat. Lelah tentu, tapi peran untuk mengajar saja tidak cukup, apalagi dengan jumlah siswa  yang banyak akan susah mengawasi mereka.

Ketakutan orang tua saat ini, adalah “Bully” dan kekerasan sesama pelajar di sekolah. Sebagai orang tua saya berharap, anak-anak yang pergi pagi pulang sore sesampai di rumah bercerita kalau hari ini sekolah kami semuanya baik baik saja.

Jangan, sesampai di rumah anak bercerita buruk tentang kawan-kawannya atau prilaku guru disekolahnya.

Selamat bertugas kawan-kawan jika Anda merasa tertekan saya siap menjadi tempat curahan hati kawan-kawan. Wassalam..(dedy suwadha)



PKP DREAMLAND

FANINDO

DEWAN PERS WARTAKEPRI

PEMPROV KEPRI
PEMKO BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA