Hasil FGD PWI Kepri dan BEM Poltek Batam (3), Rida: DBH Migas Kepri Tidak Adil

263

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Dalam Forus Diskudi Group PWI Kepri dan BEM Politeknik Batam dengan tema Peran BBK Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dan Menyambungkan Archipelago Melalui Tol Laut, Kamis (8/9/2016), Toko Pers di Kepri, Rida K Limasi, (Chariman Riau Pos Group) mengkritisi peran pemerintah pusat yang dinilai belum serius dengan program Poros Maritim. Itu jika dilihat dari potensi Kepri sangat layak menjadi Poros Maritim dimana, dari segi sumber daya alam Migas dan Kekayaan laut di Kepri, serta letak jauh lebih unggul dibandingkan daerah maritim lain di Indonesia.

Belum seriusnya itu, terlihat dari program Pemerintah pusat tidak menganggarkan dana untuk membangun pelabuhan kelas dunia di Kepri. Bahkan, pemerintah pusat takut dengan pemerintah Singapura. Padahal, potensi pelabuhan peti kemas jika jadi dibangun di Tanjung Sauh, maka Kepri akan menjadi labuhan kapal kargo terbesar di wilayah Indonesia.

Dari 24 pelabuhan akan dibangun di Indonesia, tidak satupun dibangun di Kepri. Padahal anggaran yang dikucurkan untuk pembangungan itu total mencapai Rp700-800 Triliun. Mestinya, pelabuhan yang menjadi penghubung dan menjadi program Tol Laut di juga harus dibuat di Kepri. Bukan, fokus saja ke Indonesia Timur.

” Padahal, kekayaan Migas di Kepri hasilnya dibagi bagi keseluruh Provinsi di Indonesia, dan jika dilihat dari jumlah penduduk saja, Kepri kalah dengan penduduk di Provinsi Jawa, dan ternyata pembagian migas disana lebih besar. Jadi, butuh ide untuk mengumbah garis besar pembangunan kalau memang mau Kepri dijadikan bagian dari Poros Maritim, dan itu dimulai dengan alokasi bagi hasil migas yang besar juga untuk masyarakat Kepri,” papar Rida K Liamsi.

Dijelaskan Rida juga, jika alasan alur perairan Kepri dangkal dan sudah dibuat pelabuhan peti kemas, maka itulah yang harus diubah, karena bisa dilakukan pendalaman. ” Intinya, kita lihat ada ketakutan oleh Singapura kalau Kepri nanti akan besar dan menyaingi negara Singapura,” kritik Rida K Limasi.

Sementara itu, dalam pemaparan Rida, pendapatan negara Singapura dari Selat Malaka saja, untuk Kapal mencapai 145 Juta Dolar pertahun, sedangkan Malaysia 45 juta dolar, dan untuk Batam hanya 450 ribu Dolar saja pertahun.

” Jika bisa membangun Pelabuhan Peti Kemas juga di Kepri, maka itu baru dikatakan Kepri bagian dari suksesnya program Poros Maritim yang dicanangkan Presiden Jokowi. Harapan, agar adek adek mahasiwa dan pemerintah daerah memahami permasalahan ini, yang memang sejak lama diidekan, tapi tidak juga kunjung bisa dilakukan,”ujar Rida K Liamsi. (dedy suwadha)

Bersambung: Prof Syahrir Akhlus, Pompong Teknologi Listrik Matahari

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel