WARTAKEPRI.co.id, NATUNA – Selain hasil laut, cengkeh masih menjadi andalan bagi masyarakat sebagai sumber ekonomi yang tidak kalah besarnya dari hasil-hasil alam lainnya. Masyarakat Kabupaten Natuna di Provinsi Kepri, saat ini menikmati harga cengkeh relatif baik.
Jutaan rupiah bisa diperoleh satu keluarga yang rata-rata memiliki pohon cengkeh. Pohon cengkeh tersebut, tidak hanya berada di kebun-kebun mereka, namun juga ditanam di sekitar rumah.
Panen cengkeh awal tahun merupakan berkah tersendiri bagi petani karena awal tahun. Roda ekonomi masyarakat Natuna kini berharap pada kebun cengkeh, mengingat perputaran uang APBD daerah belum kunjung terealisasikan.
Panen cengkeh umumnya berlangsung setahun sekali, namun panen besar atau panen raya biasanya berlangsung dalam kurun dua tahun sekali.
” Tidak ada data akurat hasil panen tiap tahun di Natuna, namun diperkirakan bisa mencapai 1000-2000 ton cengkeh basah dalam musim panen raya. Sedangkan panen biasa hasilnya lebih kecil dari angka itu,” ungkap Romi Pegawai Negeri Sipil Pemda Kab Natuna, kapada wartakepri.co.id
Dia mengatakan, rata-rata satu keluarga di pulau memiliki 30 pohon cengkeh. Paling sedikit mungkin 15 pohon. Sementara satu pohon cengkeh bisa menghasilkan 20 kilogram cengkeh.
” Jadi hitung saja berapa penghasilan mereka,” ujar Romy, di Ranai, Sabtu, (28/1/2017).
Dengan harga cengkeh fluktuatif saat ini berkisar antara Rp 20 Ribu rupiah hingga Rp 24 ribu /kg untuk cengkeh basah sedangkan harga Rp 70 ribu sampai Rp 75 ribu /kg untuk cengkeh kering.
Lanjut Romy, mungkin hal ini menjadi berkah melimpah mampu menopang ekonomi masyarakat.
Apalagi saat ini sedang berlangsung musim utara di mana para nelayan tidak dapat melaut, karena cuaca buruk disertai gelombang laut besar mencapai 3-5 meter.
Cengkeh yang sudah kering, akan dikumpulkan dan dijual ke koperasi diranai. Namun ada kalanya juga datang pengumpul yang mengumpulkan satu per satu dari petani. Harganya, kata Romy mengaku juga punya batang Cengkeh, tentu lebih menguntungkan jika petani menjualnya sendiri.
Panen yang hanya setahun sekali itu membuat warga bisa membeli berbagai kebutuhan dan mempertebal tabungan untuk masa depan.
Revitalisasi Cengkeh
Sebetulnya apabila pemerintah kabupaten Natuna berkonsentrasi mengurus sektor cengkeh ini kita tidak perlu pening-pening memikirkan program baru yang tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” ungkap Junaidi Samsudin Pemerhati sosial di Kab Natuna Bermukim di Kecamatan Sedanau belum lama ini.
Masih kata Junaidi, semangat itu tentunya harus diikuti oleh beberapa kebijakan atau peraturan daerah (Perda) yang berpihak pada sektor ini.
” Perlu kerja keras dari semua kalangan untuk mengangkat gengsi dan harga cengkeh Natuna ini,” tutur Junaidi.
Pertama lanjutnya, yang harus dilakukan tentunya adalah mendata ulang jumlah tanaman cengkeh di natuna .
Data ini sifatnya sangat mendesak mengingat usia pohon cengkeh yang ada di wilayah yang dulunya dikenal dengan nama Pulau Tujuh sudah tua dan banyak yang tidak produktif lagi.
Revitalisasi Cengkeh di Natuna harus menjadi prioritas. Peran Lembaga Swadaya Masyarakat sangat diperlukan dalam hal pendataan ini.
Perbandingan Digirontalo , 100 ribu benih tanaman cengkeh telah diberi kepada para petani di tiga tempat di Provinsi Gorontalo oleh perusahaan rokok PT HM Sampoerna Tbk. Benih itu dari varietas Zanzibar, yang berkualitas tinggi dan adaptif terhadap beragam kondisi alam.
Lanjut Junaidi, langkah kreatif Pemrov Gorontalo menggandeng pihak user untuk terlibat dalam program revitalisasi cengkeh di wilayah mereka perlu Natuna contoh.
Apabila kita di Natuna berhasil menaikan mutu cengkeh dan menyediakan infrastruktur pendukung yang baik, bukan tidak mungkin cengkeh Natuna akan kembali menjadi primadona untuk menopang perekonomian masyarakat dan dilirik tidak hanya oleh user dalam negeri.
” Barangkali tetangga kita yang ngotot akan menggelar latihan perang-perangan di laut Natuna juga akan tertarik,” pungkasnya.(Rikyrinov)






























