Karantina Pertanian Karimun Catat Ekspor Madu Sarang Walet dan Kelapa Naik, Sagu Lingga Turun – WartaKepri
379 views

Karantina Pertanian Karimun Catat Ekspor Madu Sarang Walet dan Kelapa Naik, Sagu Lingga Turun

PKP DREAMLAND

WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Tanjungbalai Karimun mencatat, adanya penurunan permintaan pasar domestik terhadap komoditas sagu asal Kabupaten Lingga di triwulan I tahun 2020 sebanyak lebih dari 50%.

Tercatat hanya 1. 264 ton dengan nilai barang mencapai Rp. 7,58 miliar sejak bulan Januari hingga April 2020. Sementara pada periode yang sama tercatat 2. 931 ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp. 17,58 miliar.

Hal ini berdasarkan rilis Kementan nomor 519/R-KEMENTAN/05/2020. Penurunan ini bukan karena produksi, melainkan adanya kendala transportasi yang tidak beroperasi akibat pembatasan modal transportasi, guna mengantisipasi pencegahan penyebaran Covid-19.

Biasanya komoditas asal subsektor tanaman pangan ini dilalulintaskan ke Jakarta, Tanjung Pinang dan Selat Panjang, Kepulauan Meranti.

Untuk itu, guna menjaga stabilitas harga ditingkat petani, Karantina Pertanian Tanjungbalai Karimun bersama-sama dengan instansi serta pemangku kepentingan pertanian melakukan sinergisitas untuk mendorong komoditas ini menjadi ragam baru komoditas ekspor asal Tanjungbalai Karimun.

Kepala kantor Karantina Pertanian Karantina Tanjungbalai Karimun, Priyadi menjelaskan bahwa, sejalan dengan program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks), yang digagas oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, maka sinergisitas untuk mendorong peningkatkan ekspor dengan pelbagai pihak.

“Hasil pertanian sagu merupakan alternatif pengganti beras sebagai bahan pangan pokok, seperti halnya beberapa wilayah ditanah air sudah dapat mengkonsumsinya,” terang Priyadi.

Menurutnya, Kabupaten Lingga sendiri merupakan pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Riau dengan Daik sebagai ibukotanya. Letak Kabupaten Lingga sangat strategis karena berdekatan dengan Batam dan Bintan, serta berbatasan langsung dengan Provinsi Jambi dan Bangka Belitung. Sehingga Kabupaten Lingga juga merupakan wilayah kerja Karantina Pertanian Karimun.

“Tanaman sagu atau Metroxylon Sagu Rottb, termasuk dalam famili palmae dan merupakan tanaman yang menyimpan pati pada batangnya. Dengan luas perkebunan tanaman sagu di Lingga mencapai 3.314 hektar, dengan jumlah produksi mencapai 2.608,4 ton. Dari jumlah ini, kebutuhan sagu di Lingga dapat dikatakan surplus sehingga perlu gebrakan untuk menembus pasar ekspor,” pungkasnya.

Priyadi mengungkapkan, untuk harga di pasar ekspor khususnya pasar Cina, mampu membeli dengan harga sekitar Rp. 25 ribu/kg, sementara harga jual skala domestik yang didapat dari petani hanya Rp. 6 ribu/kg. Dan hingga saat ini sagu yang telah diolah setengah menjadi tepung asal Lingga, telah dikirim pada bulan Februari 2020 ke Cina sebagai sample (contoh) ekspor, dan dinyatakan telah memenuhi persyataran teknis sanitari dan fitosanitari negara tersebut.

“Alhamdulilah, semoga setelah pandemi berakhir, pihak otoritas negara Cina dijadwalkan untuk dapat melihat langsung guna menelusuri produk, dan kami siap mengawal,” imbuhnya.

Potensi Ekspor Tanjungbalai Karimun

Ditempat terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil menyebutkan, dalam menjalankan perannya sebagai fasilitator pertanian pada perdagangan international, pihaknya melakukan sinergistas dengan seluruh instansi pertanian dan pihak terkait di seluruh Indonesia.

“Aplikasi peta potensi ekspor besutan Barantan ini telah disiapkan guna mendorong pembângunan pertanian berbasis kawasan dan kearifan lokal yang berorientasi ekspor. Informasi yang dapat di akses di seluruh unit pelaksana teknis karantina pertanian ini, berisikan data lalu lintas produk pertanian, baik ekspor, impor maupun antar area,” paparnya.

Ali Jamil menambahkan, pimpinan di unit kerja sendiri bertanggungjawab untuk mendorong kinerja ekspor di masing-masing wilayah. Adapun indikatornya selain peningkatan volume dan nilai, adalah penambahan negara tujuan baru dan ragam komoditas.

“Kita dorong produk baru atau emerging serta produk yang telah diolah, minimal setengah jadi,” kata Jamil dari ruang monitoring lalulintas produk pertanian di Jakarta, Rabu (20/5/2020).

Dirinya juga menuturkan, fasilitasi ekspor komoditas pertanian melalui Karantina Pertanian Karimun selama bulan Januari hingga bulan April 2020, menunjukan tren peningkatan. Tiga komoditas ekspor tertinggi diantaranya yaitu berupa bungkil kelapa, madu dan sarang burung walet.

Masing-masing tercatat 1,1 ribu ton dengan nilai mencapai Rp. 14 miliar untuk bungkil kelapa, 6 ton atau senilai Rp. 572 juta untuk madu dan 268 kilogram dengan nilai mencapai Rp. 3,7 miliar. Hingga sampai dengan laporan terakhir, sagu menjadi ragam komoditas ekspor baru dari Karimun.

“Selain melakukan sinergisitas dengan pemerintah daerah untuk mendorong tumbuhnya ragam komoditas baru, Barantan juga telah melakukan upaya sinkronisasi aturan perkarantinaan dengan negara tujuan, untuk tiap komoditas pertanian. Dengan harapan makin banyak protokol ekspor produk pertanian kita yang nantinya akan disetujui di negara mitra dagang,” sebut Jamil.

Dengan demikian, menurut Jamil pihaknya yang bertugas di border atau batas negeri, khususnya di masa hari raya (lebaran) saat ini, telah melakukan peningkatan pengawasan. Khususnya terhadap lalu lintas 11 produk bahan pokok yang dikendalikan, diantarnya berupa beras, jagung, cabai dan lainnya.

Langkah yang diambil berupa layanan karantina pertanian tetap berjalan dimasa liburan lebaran, menjalankan operasi patuh Karantina bersama dengan instansi keamanan terkait lainnya, serta meningkatkan fungsi intelijen.

“Lalulintas 11 bahan pokok kami kendalikan sesuai rekomendasi direktorat teknis, sementara itu untuk keamanan, kesehatan dan kelancarannya akan terus kami kawal,” jelasnya.

Reporter : Aziz Maulana

Komentar Anda



FANINDO
DEWAN PERS WARTAKEPRI

PEMPROV KEPRI
DPRD BATAM
PEMKO BATAM
DPRD ANAMBAS
PEMKAB ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
DPRD KARIMUN
PEMKAB KARIMUN
DPRD LINGGA
PEMKAB LINGGA