Ditahan Bersama di Rutan Mabes Polri, Inilah Jaringan Bisnis Properti Djoko Tjandra di Tiga Negara

299

WARTAKEPRI.co.id – Djoko Tjandra alias Tjan Kok Hui yang lahir di Kalimantan Barat, 27 Agustus 1950 ini, merupakan pendiri Mulia Group. Djoko bersama ayahnya, Tjandra Kusuma, serta dua saudaranya mengawali Mulia Group dengan PT Multiland Tbk pada 1970 dan membangun properti mewah seperti Wisma Mulia, Hotel Mulia, Wisma GBKI, dan Menara Mulia.

Jejak properti Mulia Group juga terekam di sejumlah kawasan elite di Malaysia. Pada 13 Mei 2015, 1MDB Real Estate, pengembang Tun Razak Exchange, menjual tanah lokasi proyek Exchange 106 di Malaysia kepada Mulia Group. Di situlah Djoko berkantor, di balik gedung gergasi berfasad kaca, di antara kawasan elite yang sejajar dengan kantor-kantor mewah lainnya.

Buron Djoko Tjandra. Foto CNN Indonesia

Portofolio bisnis Djoko di Negeri Jiran ditengarai bukan hanya di Exchange 106. Sejumlah situs properti mencatat nama Menara Hong Leong Assurance atau HLA merupakan alamat kantor pusat Mulia Group Malaysia.

Dilansir dari Tempo, selain Mulia Group, dia tercatat menjalankan PT Era Giat Prima, perusahaan yang bergerak di bidang penagihan. Dia berkongsi dengan politikus Partai Golkar, Setya Novanto. Djoko sebagai direktur dan Setya Novanto sebagai direktur utamanya. Perusahaan ini mengadakan kontak bisnis dengan Bank Bali yang buntutnya ia diadili karena kasus hak tagih senilai Rp 904 miliar.

Jejaring bisnis Djoko juga terlacak di Papua Nugini. Dia terdata menjalankan Naima Agro Industries Limited, perusahaan beras yang berlokasi di Kota Bereina, Papua Nugini. Transparency International Papua New Guinea, lembaga pegiat antikorupsi, mencatat Djoko menjalankan sejumlah investasi saat Peter O’Neill menjadi perdana menteri.

PKPONLINE PKP DREAMLAND

Dia mendapatkan hak monopoli pengadaan beras di Central Province di pesisir selatan. Berdasarkan penelusuran Kejaksaan Agung pada 2012, nilai investasi yang dibenamkan Djoko di Naima mencapai US$ 2 miliar. Joko juga memperoleh kontrak renovasi gedung pusat pemerintah senilai 145 juta kina atau setara dengan Rp 601 miliar.

Jembarnya skala bisnis Djoko pun terungkap dalam dokumen Panama Papers, bocoran file finansial dari firma hukum Mossack Fonseca di Panama. Nama Djoko tercatat dalam 27 berkas, yang tertua berasal dari 1986. Tahun itu, Djoko dan saudaranya membentuk C+P Holdings Limited.

Djoko menguasai 14 ribu lembar saham dengan nilai US$ 1 per saham. Perusahaan itu didirikan di yurisdiksi British Virgin Islands, negara suaka pajak di kawasan Karibia.

Djoko pun tercatat meminta firma Mossack Fonseca mendirikan perusahaan cangkang bernama Shinc Holding Limited pada Mei 2001. Akta pendirian Shinc Holdings mencantumkan modal awal sebesar US$ 50 ribu dengan harga per lembar US$ 1.

Djoko memakai alamat rumahnya di kawasan Simprug, Jakarta Selatan, dalam sertifikat tersebut. Belakangan, alamat perusahaan berpindah ke Omega Plaza di Mong Kok, Hong Kong.

Pada Agustus 2012 atau berselang tiga tahun setelah Djoko menjadi buron, ada sebuah perusahaan investasi yang meminta perubahan komposisi saham Shinc Holdings kepada Mossack Fonseca. Memenuhi permintaan itu, Mossack mengalihkan kepemilikan ke anak-anak Djoko.

Djoko Tjandra akan Ditahan di Rutan Salemba

Terpidana kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra, dipastikan akan ditahan di Rutan Mabes Polri, Jakarta Selatan. Di tempat yang sama, Mabes Polri juga menahan Brigadir Jenderal Prasetyo Utomo yang dituduh telah menerbitkan surat jalan bagi Djoko.

Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo, mengatakan penahanan Djoko di sana, dikarenakan keperluan pemeriksaan lebih lanjut. Meski begitu, ia menjamin bahwa Djoko akan dipisahkan dari Prasetyo Utomo.

“Terkait dengan penempatan, tentunya kita akan memisahkan,” kata Listyo dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim, Jakarta Pusat, Jumat, 31 Juli 2020.

Listyo menegaskan bahwa penempatan Djoko di Rutan Bareskrim Mabes Polri sifatnya hanya sementara. Setelah pemeriksaan selesai, Djoko akan diserahkan kembali ke Rutan Salemba.

“Untuk ditempatkan yang tentunya akan disesuaikan dengan kebijakan dari Karutan Salemba,” kata Listyo.

(tempo/zamane)

Komentar Anda

Polling Bakal Pasangan Calon Gubernur Kepri Periode Agustus 2020 versi WartaKepri.co.id

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO