Home Berita Utama Hari Paling Berdarah di Myanmar, Seorang Anggota Polisi Arahkan Senjata ke Pendemo

Hari Paling Berdarah di Myanmar, Seorang Anggota Polisi Arahkan Senjata ke Pendemo

Demo Myanmar Berdarah
Para pengunjuk rasa bereaksi ketika polisi menembakkan gas air mata selama demonstrasi menentang kudeta militer Myanmar di Mandalay. (AFP)
Banner DPRD Batam 2026

WARTAKEPRI.co.id, MYANMAR – Bercak darah terlihat di sejumlah jalanan Kota Yangon. Tercatat, 38 orang tewas dalam demonstrasi menentang kudeta militer Myanmar pada Rabu 3 Maret 2021.

Utusan PBB untukMyanmar, Christine Schraner Burgener menyebutnya sebagai “hari paling berdarah” sejak militer melakukan kudeta terhadap pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021.

Bak zona perang “game online”. Ada kepulan asap, desingan peluru, hingga meriam air. Hari paling berdarah terjadi di Myanmar.

“Ini adalah yang paling berdarah sejak kudeta terjadi,” ujar Burgener.

Hari itu, sekitar 1.200 orang ditahan aparat di Myanmar. Banyak dari anggota keluarga yang tidak tahu di mana lokasi penahanan sanak saudara mereka.

BACA JUGA Militer Myanmar Umumkan Darurat Militer 1 Tahun Kedepan, Telekomunikasi Diputus

Aktivis menyebut Myanmar sudah mirip seperti “zona perang” akibat aksi represif aparat terhadap para demonstran.

Kudeta Myanmar Berdarah
Foto AFP

“Militer memperlakukan pengunjuk rasa yang damai di Yangon seperti sebuah zona perang. Militer lagi-lagi menciptakan teror,” ujar kelompok aktivis Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), seperti dilansir CNN.

Laporan media Myanmar mengungkap adanya pasukan keamanan yang menembaki kerumunan besar di sejumlah kota, termasuk Yangon, dengan sedikit peringatan. Dua anak laki-laki, berusia 14 dan 17 tahun, serta seorang wanita berusia 19 tahun termasuk di antara mereka yang tewas, kata organisasi Save the Children.

Enam orang juga dilaporkan ditembak mati selama protes di Monywa, Myanmar tengah. 30 orang lainnya terluka dalam kerusuhan itu dan seorang relawan medis mengatakan kepada AFP bahwa 10 orang terluka di Myingyan.

“Mereka menembakkan gas air mata, peluru karet, dan peluru tajam,” kata relawan medis.

“Mereka tidak menyemprot kami dengan meriam air, (tidak ada) peringatan untuk bubar, mereka hanya menembakkan senjata,” kata seorang pengunjuk rasa di kota itu.

Dalam catatan PBB, lebih dari 50 orang tewas dalam demonstrasi sejak militer melakukan kudeta pada 1 Februari 2021.(*)

Sumber : Liputan6

WhasApp

Google News WartaKepri