Ikalusika Malamang di Pantai Melayu,Tradisi Turun Temurun Ranah Minang

Ikalusika Malamang di Pantai Melayu,Tradisi Turun Temurun Ranah Minang
PKP Online

WARTAKEPRI.co.id, Batam-Salah satu tradisi lokal yang dimiliki oleh masyarakat minang dalam rangka menyambut sebuah perayaan adalah dengan malamang. Malamang memasak lamang atau lemang.

Ketua Panitia acara malamang Ikalusika Jumeri Bersama Weni Roza menyampaikan acara ini kami adakan buat menjalin silatulrahmi terutama Ikalusika dan warga Ikapas,Alhamdulillah dari kemaren kami segenap panitia dan warga kerja keras demi kebersamaan membuat lemang 300 batang sampai hari ini.

Motto:Mauleh Nan Putuih, Manjapuik nan Tingga, menyambut bulan puasa.

Tradisi malamang diperkirakan berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Kegiatan ini berlangsung terus menerus hingga saat ini.

BACA JUGA: Batam Kota Saiyo, Wadah Cinta dan Dukungan Warga Minang untuk Marlin

Ardo arjo salah satu tokoh pemuda Iklusika menyatakan perlu menghadirkan kembali tradisi malamang yang saat ini sudah jarang dilakukan masyarakat.

“Selaku generasi muda, kami ingin mewarisi tradisi yang baik ini, sebab dalam tradisi malamang terdapat semangat persatuan, kebersamaan dan kekompakan Ikatan Keluarga Lubuk Sikaping(IKLUSIKA),” Pantai Melayu Minggu (4/4/2021).

Hingga kini, meski zaman telah berubah dan ilmu pengetahuan terus berkembang, lamang tetaplah makanan yang terbuat dari adonan beras ketan dan santan yang dimasukkan dalam tabung bambu dimana lubang dalam bambu tersebut sebelumnya telah dialasi oleh daun pisang dan kemudian dipanggang diatas api dengan kayu sebagai bahan bakar.

Menurut Tambo, syekh Burhanuddin memiliki peran yang besar atas terbentuknya tradisi ini.Biasanya, kegiatan malamang dilakukan saat memasuki atau memperingati hari-hari besar islam.

Biasanya malamang dilakukan sehari sebelum kegiatan atau peringatan tersebut dilakukan.(Chilalek)

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel