Home Kuliner Mie Instan: Lezat, Mudah, Tetapi Tidak Selalu Sehat

Mie Instan: Lezat, Mudah, Tetapi Tidak Selalu Sehat

Mie Instan: Lezat, Mudah, Tetapi Tidak Selalu Sehat
Mie Instan, makanan instan yang lezat tapi tidak selalu sehat? (ilustrasi)
PANBIL MALL   Grand Mercure Batam

BATAM – Meskipun menjadi makanan favorit, mie instan tetap dianggap sebagai makanan yang tidak sehat. Apa yang sebenarnya membuatnya kurang sehat? Apakah bagian mie ataukah bumbunya yang perlu dicurigai?

Mie instan, makanan yang mudah dibuat dan enak, telah menjadi favorit dan digemari oleh berbagai kalangan usia, termasuk di Indonesia. Namun, di balik kelezatannya, mi instan tetap mendapat stigma sebagai makanan yang tidak sehat.

Umumnya terdiri dari mi sebagai komponen utama dan bumbu yang menentukan aroma dan rasanya, mie instan mengundang pertanyaan kritis: Mana yang sebenarnya lebih tidak sehat, mi atau bumbunya?

BACA JUGA: Mengenal Konsep Kemewahan dan Kenyamanan di Resort Tropis Montigo Batam

Dokter gizi komunitas dari Dr Tan & Remanlay Institute Banten, Tan Shot Yen, memberikan penjelasan. Menurutnya, baik mi maupun bumbu dari mi instan sama-sama tidak sehat.

Bumbu mi instan umumnya tinggi garam dan Monosodium glutamate (MSG), penguat rasa yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan jika terlalu sering dikonsumsi.

MSG, yang terdapat dalam bumbu mie instan, terdiri atas natrium dan klorida. Meskipun tubuh manusia membutuhkan natrium untuk keseimbangan elektrolit dan penunjang kerja otot serta syaraf, terlalu banyak asupan natrium dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Saran Kementrian Kesehatan

Kementerian Kesehatan menyarankan asupan natrium harian bagi orang dewasa sehat adalah 2.000 miligram atau setara dengan satu sendok teh garam per hari. MSG yang banyak terkandung dalam bumbu mi instan harus dibatasi agar tidak melebihi asupan harian yang dianjurkan.

Lebih lanjut, komponen mi dari mi instan, yang merupakan produk rafinasi dari terigu atau tepung gandum, dapat membuat gula darah naik dan turun secara cepat. Produk rafinasi cenderung mudah diserap menjadi gula darah, menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat.

Dosen dan ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada, Toto Sudargo, seperti dikutip liputan6, Sabtu (6/1/2024), menekankan bahwa mi instan, terlepas dari komponen mi atau bumbunya, perlu diolah menjadi menu yang lebih sehat. Menambahkan telur, daging, ikan, sayur, dan lauk nabati dapat membuat mi instan menjadi menu bergizi lengkap.

BACA JUGA: BP Batam Minta Maaf Terkait Kualitas Air dan Segera Dituntaskan

Meski tidak ada takaran pasti seberapa banyak mi instan yang boleh dikonsumsi, dr. Tan Shot Yen menegaskan bahwa literasi gizi sangat penting.

Mi instan yang dikonsumsi secara berlebihan, terlalu sering, dan terlalu banyak dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti obesitas dan gangguan gizi, terutama pada tumbuh kembang anak.

Jadi, sementara mi instan mungkin memberikan kenyamanan dan kelezatan dalam waktu singkat, penting untuk memahami batasan dan memastikan bahwa konsumsinya seimbang dengan kebutuhan gizi harian.

Selalu disarankan untuk membaca label produk dan memilih cara pengolahan yang lebih sehat agar mi instan tetap dapat dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan. (*/lip6)

Editor: Denni Risman

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026

WhasApp