Home Info Migas Dari Batam untuk Indonesia, FPSO Marlin Natuna Pacu Kemandirian Energi

Dari Batam untuk Indonesia, FPSO Marlin Natuna Pacu Kemandirian Energi

Tampak dari udara inilah FPSO Marlin Natuna merupakan proyek konversi kapal tanker menjadi FPSO pertama di Indonesia
Tampak dari udara inilah FPSO Marlin Natuna merupakan proyek konversi kapal tanker menjadi FPSO pertama di Indonesia
PANBIL MALL   Grand Mercure Batam

WARTAKEPRI.CO.ID – Pre-Indonesian Oil, Gas Supply Chain Management and National Capacity Building (IOG SCM & NCB) Summit 2024 di Kota Batam, Kepulauan Riau, pada awal bulan Juli tahun 2024. Bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah momentum krusial dalam upaya Indonesia untuk mencapai kemandirian di sektor hulu migas.

Acara ini menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan untuk berkolaborasi, berbagi pengetahuan, dan merumuskan strategi yang lebih komprehensif dalam meningkatkan daya saing industri dalam negeri.

Mengapa Batam?

Pemilihan Batam sebagai tuan rumah Pre-IOG SCM & NCB 2024 yang digelar di Batam ini sangat strategis. Kota industri yang terletak di Kepulauan Riau ini telah lama menjadi pusat aktivitas hulu migas di Indonesia.

Dengan konsentrasi perusahaan-perusahaan besar dan UMKM yang bergerak di sektor ini, Batam menjadi tempat yang ideal untuk memfasilitasi networking dan pengembangan bisnis. Selain itu, letak geografis Batam yang strategis juga memudahkan akses bagi peserta dari berbagai wilayah di Indonesia maupun mancanegara.

“Pelaksanaan Pre IOG SCM & NCB Summit 2024 di Batam menjadi penting karena di sini berkumpul penyedia barang dan jasa core (inti) yang langsung mengerjakan berbagai produk barang dan jasa terkait aktivitas hulu migas nasional,” ujar Wakil Kepala SKK Migas, Shinta Damayanti, usai acara pembukaan hari kedua, Kamis (4/7/2024) lalu.

Pelaksanaan Pre IOG SCM & NCB Summit 2024 di Batam, Rabu (3/7/2024).
Pelaksanaan Pre IOG SCM & NCB Summit 2024 di Batam, Rabu (3/7/2024).

Salah satu fokus utama Pre IOG SCM & NCB Summit 2024 di Batam adalah pengembangan proyek-proyek hulu migas di lepas pantai. Dengan dukungan teknologi canggih dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, KKKS, dan pelaku industri, tantangan-tantangan yang ada diyakini dapat diatasi.

“Kami optimistis bahwa dengan adanya rangkaian kegiatan ini, investasi di sektor hulu migas akan semakin meningkat, sehingga dapat membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan daerah,” tambah Shinta.

Shinta Damayanti mengatakan, Industri hulu migas Indonesia tengah memasuki babak baru dengan sejumlah proyek strategis yang tengah berjalan. Proyek-proyek seperti Muara Bakau, Petronas, dan Masela, yang mayoritas berlokasi di lepas pantai, diharapkan dapat meningkatkan produksi migas nasional dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian.

Namun, pengembangan di wilayah lepas pantai juga dihadapkan pada tantangan yang kompleks. Kondisi cuaca ekstrem, kedalaman laut yang mencapai ribuan meter, serta teknologi yang diperlukan untuk eksplorasi dan produksi di lingkungan yang keras menjadi kendala utama.

“Pengembangan di lepas pantai membutuhkan investasi yang besar dan teknologi yang canggih. Namun, dengan persiapan yang matang dan kolaborasi yang baik antara pemerintah, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), dan para ahli, kita yakin dapat mengatasi tantangan ini,” ujar Wakil Kepala SKK Migas, Shinta Damayanti.

Selain tantangan, industri hulu migas juga memiliki potensi yang sangat besar. Cadangan migas yang masih cukup besar, didukung oleh perkembangan teknologi eksplorasi yang semakin maju, membuka peluang untuk meningkatkan produksi dan memperpanjang usia produksi lapangan-lapangan migas yang sudah ada.

Shinta kembali menambahkan, para mitra yang terlibat dalam proyek hulu migas harus memastikan ketersediaan pendanaan yang cukup untuk menghindari kemungkinan keterlambatan dalam pelaksanaan proyek.

Salah satu alternatif pembiayaan adalah pengajuan pinjaman ke lembaga keuangan atau kerjasama dengan mitra investasi melalui kemitraan usaha patungan atau dengan investor swasta.

Proyek offshore cenderung memiliki biaya produksi yang lebih tinggi karena infrastruktur yang rumit, biaya logistik, dan risiko operasional yang lebih besar. Tekanan untuk mengurangi biaya produksi sering menjadi tantangan bagi operator.

“Perlu kerjasama antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengembangkan solusi yang berkelanjutan. Keterlibatan industri galangan kapal di dalam negeri sangat penting dalam menunjang aktivitas KKKS di sektor migas,” kata Shinta lagi.

Hari kedua Pre IOG SCM & NCB Summit 2024 di Batam menampilkan dua sesi diskusi kelompok (FGD) yang membahas solusi untuk mengatasi berbagai tantangan krusial di industri hulu migas. Salah satu topik yang dibahas adalah solusi pembiayaan proyek, mengingat proyek-proyek di sektor ini sering memerlukan investasi besar dengan risiko signifikan.

Sesi FGD lainnya membahas penguatan galangan kapal nasional dalam mendukung operasional hulu migas. Diskusi dan presentasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan kapasitas dan kapabilitas produk-produk nasional serta memajukan industri hulu migas Indonesia secara keseluruhan.

Sementara, Luki Z Prawira selaku Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) mewakili Gubernur Kepri, menyampaikan dalam sambutannya, bahwa wilayah Provinsi Kepulauan Riau yang terdiri dari 4.000 pulau, diantaranya terdapat 22 pulau yang berbatasan dengan beberapa negara ASEAN.

“Provinsi Kepri ini gerbang utaranya indonesia berbatasan dengan beberapa Negara Asean. Pak gubernur juga membuat tagline transformasi Kepri dengan nama Merajut Permata Biru Ekonomi Gerbang Utara Indonesia,” ujarnya.

Dengan begitu, Kepri memiliki potensi strategis. Luki mengharapkan kolaborasi SKK Migas dengan Pemprov Kepri yang telah dibangun dapat terjaga dan berkelanjutan.

“Pemprov Kepri siap memberikan dukungan dan kolaborasi dengan SKK migas, dalam menghadapi tantangan hulu migas di kedepannya,” pungkasnya.

Wakil Kepala SKK Migas Shinta Damayanti peninjauan keperusahaan penunjang kegiatan industri hulu migas. Kunjungan yang didampingi Kepala Perwakilan Sumbagut Rikky Rahmat Firdaus dilakukan ke PT.Pertamina Patra Niaga di Nongsa Batam.
Wakil Kepala SKK Migas Shinta Damayanti peninjauan keperusahaan penunjang kegiatan industri hulu migas. Kunjungan yang didampingi Kepala Perwakilan Sumbagut Rikky Rahmat Firdaus dilakukan ke PT.Pertamina Patra Niaga di Nongsa Batam.

Masih dari perhelatan Pre Indonesia Upstream Oil & Gas Supply Chain Management & National Capacity Building (IOG SCM & NCB) Summit 2024 beberapa waktu lalu di Batam, jelang penutupan acara, Wakil Kepala SKK Migas Shinta Damayanti melakukan peninjauan langsung ke perusahaan penunjang kegiatan industri hulu migas. Kunjungan yang didampingi Kepala Perwakilan Sumbagut Rikky Rahmat Firdaus dilakukan ke PT Pertamina Patra Niaga di Nongsa Batam.

“Kunjungan dimaksudkan untuk memastikan kesiapan komoditas pendukung capaian target pengeboran dan operasional hulu migas ditahun 2024 serta memastikan stok dan kehandalan distribusi untuk pencapaian target pemboran dan operasinya,” demikian ditulis dari Istagram SKK Migas Sumbagud.

Samuel H. Lubis, Manager Industrial Sales PT Pertamina Patra Niaga menyatakan siap berkolaborasi dan berkomitmen memberikan solusi kepada KKKS dalam pemenuhan rantai pasokan yang dibutuhkan, sesuai dengan bisnis-bisnis dari Pertamina Patra Niaga yakni Komoditas Bahan Bakar, Petrochemical, Lubricant, Aviasi dan juga termasuk LPG untuk mencapai pemenuhan target produksi yang ditetapkan oleh SKK Migas.

Selama dua hari kegiatan, Pre IOG SCM & NCB Summit 2024 di Batam diramaikan dengan kegiatan pameran yang terdiri dari 23 booth kemitraan dan beberapa booth yang memfasilitasi para vendor untuk lebih mengenal SCM di Industri Migas.

Link berita di bawah ini:

Dari Batam untuk Indonesia, FPSO Marlin Natuna Pacu Kemandirian Energi

 

 

 

 

 

 

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026

WhasApp