Home Ekonomi Ekspor Sumbar Tembus US$1,56 Miliar Semester I 2026, Industri Pengolahan Jadi Motor...

Ekspor Sumbar Tembus US$1,56 Miliar Semester I 2026, Industri Pengolahan Jadi Motor Utama

Ekspor Sumbar
Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Sumatera Barat Rudy Rinaldy dan Yosi Suryani dari Politeknik Negeri Padang
Banner DPRD Batam 2026

WARTAKEPRI.co.id, PADANG – Kinerja ekspor Sumatera Barat menunjukkan pertumbuhan positif sepanjang Semester I 2026. Nilai ekspor Sumbar periode Januari-Juni 2026 mencapai US$1.568,05 juta, atau meningkat 22,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Kenaikan tersebut setara dengan tambahan nilai ekspor sekitar US$286,27 juta. Bahkan, pada Juni 2026 saja, nilai ekspor Sumatera Barat mencapai US$386,41 juta, tumbuh 47,85 persen secara year-on-year (yoy).

Data tersebut menjadi gambaran bahwa perdagangan luar negeri semakin berperan dalam menopang aktivitas ekonomi Sumatera Barat. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, struktur ekspor Sumbar masih menghadapi tantangan berupa tingginya ketergantungan terhadap komoditas dan negara tujuan tertentu.

Hal itu menjadi catatan yang disampaikan Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Sumatera Barat Rudy Rinaldy dan Yosi Suryani dari Politeknik Negeri Padang dalam melihat perkembangan kinerja ekspor Sumbar Semester I 2026.

Industri Pengolahan Dominasi Ekspor Sumbar

Sektor industri pengolahan menjadi motor utama ekspor Sumatera Barat. Sepanjang Semester I 2026, sektor tersebut menyumbang 96,81 persen dari total ekspor atau sekitar US$1.518,06 juta.

Nilai ekspor industri pengolahan tersebut tumbuh 26,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspor Sumbar tidak hanya mengandalkan komoditas primer, tetapi semakin ditopang produk yang telah melalui proses pengolahan.

Dari sisi ekonomi daerah, perkembangan tersebut dinilai strategis karena hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah produk, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan pelaku usaha, serta memperkuat keterkaitan antara sektor produksi dengan perdagangan internasional.

Lemak dan Minyak Masih Jadi Penopang Utama

Meski industri pengolahan tumbuh kuat, struktur komoditas ekspor Sumbar masih sangat terkonsentrasi.

Kelompok lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) menjadi komoditas terbesar dengan kontribusi mencapai 85,39 persen dari total ekspor.

Selanjutnya, kelompok berbagai produk kimia (HS 38) menyumbang 3,53 persen, sedangkan karet dan barang dari karet (HS 40) memberikan kontribusi sebesar 3,07 persen.

Dengan demikian, tiga kelompok komoditas tersebut menyumbang lebih dari 90 persen nilai ekspor Sumatera Barat.

Kondisi tersebut menjadi kekuatan sekaligus risiko. Di satu sisi, Sumbar memiliki komoditas unggulan yang mampu menembus pasar internasional dalam skala besar. Namun di sisi lain, ketergantungan terhadap komoditas tertentu dapat membuat kinerja ekspor rentan apabila harga maupun permintaan global mengalami penurunan.

Karena itu, diversifikasi produk dan peningkatan nilai tambah dinilai penting untuk memperkuat daya tahan ekspor Sumbar ke depan.

Garam, Belerang dan Kapur Tumbuh Paling Tinggi

Di tengah dominasi sejumlah komoditas utama, kelompok garam, belerang dan kapur (HS 25) mencatat pertumbuhan paling tinggi.

Nilai ekspor kelompok komoditas tersebut meningkat sekitar US$20 juta atau 111,20 persen.

Pertumbuhan tersebut membuka peluang pengembangan komoditas yang sebelumnya belum menjadi kontributor utama ekspor Sumbar. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu melihat lebih jauh kapasitas produksi, pasar potensial, kualitas produk, hingga peluang pengembangan industri pengolahan.

Sebaliknya, kelompok kopi, teh dan rempah-rempah (HS 09) mengalami penurunan terbesar, yakni sekitar US$16,78 juta atau 44 persen.

Penurunan tersebut menjadi perhatian karena kopi dan rempah-rempah merupakan bagian dari potensi komoditas pertanian Sumatera Barat. Evaluasi diperlukan terhadap faktor produksi, kualitas, harga, permintaan pasar, hingga hambatan perdagangan yang memengaruhi daya saing komoditas tersebut.

India Jadi Pasar Ekspor Terbesar

Dari sisi negara tujuan, India menjadi pasar ekspor terbesar Sumatera Barat dengan nilai mencapai US$385,12 juta.

Posisi berikutnya ditempati Pakistan sebesar US$239,84 juta, Tiongkok US$201,09 juta, Bangladesh US$173 juta, dan Myanmar US$136,65 juta.

Kelima negara tersebut menyumbang sekitar US$1.135,70 juta atau 72,42 persen dari total ekspor Sumatera Barat pada Semester I 2026.

Besarnya ekspor ke lima negara tersebut menunjukkan Sumbar telah memiliki jaringan pasar yang kuat di kawasan Asia. Namun, konsentrasi pasar juga menjadi risiko apabila terjadi perlambatan ekonomi, perubahan kebijakan perdagangan, hambatan tarif, maupun penurunan permintaan di negara-negara tujuan utama.

Sumbar Perlu Perluas Pasar dan Perkuat UMKM

Diversifikasi pasar ekspor dinilai perlu menjadi agenda strategis Sumatera Barat. Sejumlah kawasan seperti Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan dan Asia Timur dinilai memiliki peluang yang dapat terus dijajaki.

Diversifikasi tidak berarti mengurangi perdagangan dengan pasar yang sudah ada, melainkan menambah pasar baru agar risiko perdagangan dapat tersebar dan peluang ekspor semakin besar.

Selain membuka pasar baru, peningkatan daya saing UMKM juga menjadi bagian penting. UMKM perlu didorong masuk ke rantai pasok ekspor melalui standardisasi produk, sertifikasi, penguatan kemasan, digitalisasi, serta fasilitasi akses pasar internasional.

Enam Agenda Penguatan Ekspor

Berdasarkan perkembangan Semester I 2026, terdapat sejumlah agenda yang perlu diperkuat Sumatera Barat.

  • Pertama, memperkuat hilirisasi komoditas unggulan agar menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
  • Kedua, melakukan diversifikasi komoditas untuk mengurangi ketergantungan terhadap HS 15 yang saat ini mencapai 85,39 persen.
  • Ketiga, memperluas pasar ekspor dengan tetap mempertahankan lima negara tujuan utama sembari membuka akses ke pasar baru.
  • Keempat, meningkatkan daya saing UMKM agar semakin banyak pelaku usaha daerah masuk dalam rantai pasok ekspor.
  • Kelima, memperkuat sistem informasi ekspor yang menyediakan data mengenai permintaan pasar, harga internasional, standar produk, hambatan perdagangan, serta peluang komoditas.
  • Keenam, memperkuat kerja sama Government to Government (G to G) maupun Government to Business (G to B) dengan negara-negara tujuan utama seperti India, Pakistan, Tiongkok, Bangladesh dan Myanmar.

Khusus Pakistan, Bangladesh dan Myanmar, peluang kerja sama bilateral dinilai masih terbuka luas untuk dikembangkan.

Dengan pertumbuhan ekspor yang mencapai 22,33 persen pada Semester I 2026 dan dominasi industri pengolahan sebesar 96,81 persen, Sumatera Barat memiliki momentum untuk menjadikan perdagangan luar negeri sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak hanya tinggi secara nilai, tetapi juga semakin beragam, bernilai tambah, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)

Sumber : SumbarProv.go.id

WhasApp

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026