
WARTAKEPRI.co.id, JAKARTA – Sebanyak 14 siswa SMA Negeri 4 Karimun bersama satu orang pembina, dua official, dan satu anggota PPI Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), masih berada di Jakarta dan belum dapat kembali ke Kabupaten Karimun.
Rombongan tersebut terkendala kepulangan setelah penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami penundaan akibat kondisi cuaca dan adanya abu vulkanik yang berdampak terhadap aktivitas penerbangan.
Para siswa sebelumnya berada di Jakarta untuk mewakili Provinsi Kepri dalam ajang Lomba Ketangkasan Baris-Berbaris dan Pengibaran Bendera (LKBB-PB) tingkat nasional.
Rombongan tiba di Jakarta pada Jumat, 4 September 2026. Sebelumnya, mereka sempat menginap satu malam di Kota Batam pada Kamis, 3 September 2026, sebelum melanjutkan penerbangan menuju Jakarta dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam, pada Jumat pukul 10.00 WIB.
Pembina rombongan, Nurlatifah, mengatakan, mereka seharusnya sudah kembali ke Karimun pada Senin, 7 September 2026.
“Jadwal kami pukul 09:00 WIB terbang dari Soekarno-Hatta ke Hang Nadim Batam. Namun karena cuaca buruk dan masih ada polusi abu vulkanik, penerbangan ditunda sementara,” ujar Nurlatifah saat dikonfirmasi, Senin (7/9/2026).
“Sampai sekarang kami belum mendapat informasi kapan penerbangan dibuka kembali,” tambah Nurlatifah.
Menurutnya, rombongan saat ini masih menunggu arahan dari panitia pelaksana kegiatan. Mereka juga telah melakukan check out dari hotel tempat menginap dan sementara menunggu kepastian di lobi hotel.
“Kami sekarang baru check out dari hotel tempat menginap dan masih berada di lobi menunggu kabar dari pihak panitia lomba,” tuturnya.
Kondisi tersebut kata Nurlatifah, membuat rombongan belum mengetahui kapan dan melalui jalur mana mereka dapat kembali ke Kepri.
“Ada kemungkinan kami akan diarahkan untuk menggunakan bandara lain di luar Jakarta atau kembali mendapatkan fasilitas penginapan, namun hingga kini belum ada kepastian dari panitia,” ucap Nurlatifah.
Nurlatifah berharap agar, Pemerintah Kabupaten Karimun dapat membantu mencarikan solusi maupun alternatif kepulangan bagi rombongan yang masih tertahan di Jakarta.
Ia mengungkapkan adanya persoalan pembiayaan, khususnya bagi dua orang official yang ikut mendampingi rombongan. Biaya perjalanan keduanya tidak ditanggung oleh panitia dan harus dibiayai secara mandiri.
“Terutama untuk dua orang official yang ikut, biayanya tidak ditanggung panitia, melainkan ditanggung secara mandiri. Kondisi kami saat ini sangat buntu karena belum ada bantuan fasilitas apa pun,” ungkapnya.
Hingga berita ini diterbitkan, rombongan masih menunggu informasi lebih lanjut dari panitia pelaksana terkait kepastian penerbangan dan alternatif perjalanan menuju Batam sebelum melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Karimun.
Penulis: Junizar
Editor: Azis



























