WARTAKEPRI.co.id, BINTAN – Intensitas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Bintan, khususnya area kerja UPTD Pemadam Kebakaran Damkar Tanjunguban, tergolong tinggi. Hingga pertengahan September 2026, tercatat hampir 41 titik kebakaran lahan terjadi sejak Agustus hingga September.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab dari sebagian besar kebakaran lahan yang terjadi. Bahkan, sejumlah lokasi kebakaran diketahui merupakan lahan kosong yang belum jelas status maupun kepemilikannya.
Kepala UPTD Damkar Tanjunguban, Panyodi, mengatakan jumlah kebakaran lahan yang ditangani petugas hampir mencapai 41 titik.
“Dari 41 titik tersebut belum termasuk kebakaran ruko, mobil dan lainnya,” ujar Panyodi, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, tingginya kasus kebakaran lahan perlu menjadi perhatian seluruh pihak. Pemerintah dan masyarakat dinilai perlu memperkuat pencegahan, termasuk memberikan imbauan yang lebih tegas terkait larangan membersihkan lahan dengan cara membakar.
Panyodi menyebut, dari puluhan titik kebakaran lahan yang ditangani, sebagian besar berada di lahan kosong dan pemiliknya belum diketahui.
“Tugas kami memadamkan kebakaran,” tegasnya.
Salah satu kebakaran terbaru terjadi di Desa Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Bintan, Selasa (22/9/2026).
Kebakaran lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 11.13 WIB dengan luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 100 meter persegi.
Lokasi kebakaran berada di sekitar kawasan Perumahan Bukit Mas Indah, tepatnya di samping bangunan Pasar Sekilo. Berdasarkan hasil pemantauan di lokasi, lahan tersebut memiliki karakteristik tanah non-gambut.
Petugas Damkar kemudian melakukan penanganan untuk mencegah api meluas ke area permukiman dan bangunan di sekitar lokasi. Panyodi berharap seluruh pihak terkait dapat meningkatkan koordinasi dan bekerja sama dalam menekan angka Karhutla di wilayah Bintan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama saat melakukan aktivitas di sekitar lahan terbuka.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Jika menemukan asap atau titik api, warga diimbau segera melaporkannya kepada petugas pemadam kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin.
Dengan tingginya jumlah titik kebakaran yang terjadi, upaya pencegahan dinilai menjadi bagian penting untuk mengantisipasi meluasnya Karhutla, khususnya di wilayah permukiman dan kawasan yang berdekatan dengan lahan kosong.
Pengirim: Agus Ginting


























