FLORIDA – Kecelakaan pesawat pribadi jenis Learjet 60 di Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat, menewaskan sembilan orang pada Minggu (1/11/2026). Korban terdiri dari tujuh penumpang, termasuk satu keluarga asal Texas, serta dua awak pesawat.
Pesawat tersebut diketahui terbang dari Bandara Internasional Austin-Bergstrom, Texas, menuju North Eleuthera, Bahama. Namun, penerbangan berakhir tragis setelah pesawat jatuh dan terbakar di kawasan Greenacres, Florida Selatan.
Mengutip laporan Tirto.id, Selasa (3/11/2026), identitas para korban mulai terungkap melalui pernyataan keluarga penumpang dan informasi awal dari pihak terkait.
Salah satu korban adalah pengusaha teknologi Adam Robinson (45), bersama istrinya, Helen Sharp (40), serta kedua anak mereka, Emma Robinson (4) dan Charlie Robinson (2).
Selain keluarga tersebut, dua sahabat dekat mereka, Rachael Reed dan Charmi Fehr, turut menjadi korban. Seorang pengasuh anak keluarga Robinson, Anita Maria Cetina, juga meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.
Sementara itu, dua awak pesawat yang meninggal dunia masing-masing adalah kapten Jeff Gregory (55) dan kopilot Nathalia Gadelha Filgueiras (20).
Adam Robinson dikenal sebagai pengusaha teknologi yang mendirikan sejumlah perusahaan, termasuk RB2B dan Retention.com. Sedangkan Helen Sharp diketahui memiliki usaha di bidang hubungan masyarakat atau public relations.
Pesawat Jatuh Saat Cuaca Buruk
Berdasarkan informasi awal penyelidikan, pesawat Learjet 60 tersebut berangkat sekitar pukul 10.37 waktu setempat dari Austin, Texas.
Pesawat yang dioperasikan Aurora Aviation dengan nama dagang Upper Jet itu membawa tujuh penumpang dan dua awak.
Sekitar pukul 12.51 waktu setempat, pesawat jatuh di kawasan Greenacres, Palm Beach County. Benturan keras menyebabkan pesawat terbakar dan puing-puingnya berserakan di sekitar lokasi kejadian.
Kecelakaan terjadi ketika wilayah Florida Selatan dilanda badai petir dan kondisi cuaca buruk.
Kopilot Berusia 20 Tahun, Miliki 1.300 Jam Terbang
Salah satu fakta yang menjadi perhatian dalam kecelakaan tersebut adalah sosok kopilot Nathalia Gadelha Filgueiras yang masih berusia 20 tahun.
Nathalia diketahui telah memperoleh lisensi pilot privat ketika berusia 17 tahun. Ketertarikannya terhadap dunia penerbangan sudah muncul sejak kecil.
Sebelum kecelakaan, Nathalia dilaporkan telah mengumpulkan sekitar 1.300 jam terbang dan bekerja sebagai pilot profesional selama kurang lebih sembilan bulan.
Sementara itu, kapten Jeff Gregory berusia 55 tahun dan dilaporkan merupakan penerbang berpengalaman asal Pennsylvania.
Awak Pesawat Sempat Melaporkan Es dan Turbulensi
Dalam perkembangan penyelidikan, Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) mengungkap komunikasi antara awak pesawat dan pengatur lalu lintas udara atau Air Traffic Control (ATC) sebelum kecelakaan.
Kepala tim penyelidik NTSB, Tom Chapman, menjelaskan bahwa awak pesawat sempat melaporkan adanya pembentukan es ringan dan transparan pada permukaan pesawat atau light clear ice.
Saat itu, pesawat berada di ketinggian sekitar 35.000 kaki dengan suhu udara luar mencapai minus 47 derajat Celsius. Awak pesawat juga melaporkan mengalami turbulensi sedang.
Mereka kemudian meminta izin kepada ATC untuk menaikkan ketinggian penerbangan dari 35.000 kaki menjadi 37.000 kaki. Permintaan tersebut disetujui.
Namun, kurang dari 30 detik setelahnya, awak pesawat justru melaporkan pesawat mengalami penurunan ketinggian.
Dalam komunikasi terakhir, awak pesawat menyampaikan kondisi darurat atau mayday. Mereka juga melaporkan kondisi overspeed, yakni ketika pesawat melampaui batas kecepatan yang ditentukan.
Laju penurunan pesawat yang semula diperkirakan mencapai 8.000 hingga 10.000 kaki per menit kemudian meningkat menjadi lebih dari 20.000 kaki per menit.
Setelah komunikasi terputus, ATC berupaya menghubungi kembali pesawat, tetapi tidak mendapatkan respons.
NTSB Selidiki Penyebab Kecelakaan
NTSB mengerahkan sekitar 20 personel untuk melakukan penyelidikan terhadap kecelakaan tersebut.
Tim penyelidik memeriksa kondisi pesawat, rekaman komunikasi penerbangan, cuaca, serta sebaran puing-puing di lokasi kejadian.
Tom Chapman menyampaikan bahwa terdapat indikasi pesawat kemungkinan mengalami kerusakan atau terpecah sebelum menghantam tanah. Namun, hal tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi cuaca buruk dan tingginya kecepatan benturan menjadi tantangan dalam proses pengumpulan serta pemeriksaan puing-puing pesawat.
Hingga laporan awal penyelidikan tersebut disampaikan, penyebab pasti kecelakaan belum dapat dipastikan. NTSB masih melakukan investigasi untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan jatuhnya pesawat Learjet 60 tersebut.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik karena menewaskan sembilan orang, termasuk empat anggota keluarga Robinson yang sedang melakukan perjalanan dari Texas menuju Bahama. (*)
Editor Dedy Suwadha




























