Jaksa Waher Siap Lahir Batin Menangani Kasus Cabul Oknum Dewan AH

256

WARTAKEPRI.co.id, NATUNA – Penduduk Natuna hanya 78 ribu jiwa, ternyata tingkat Kasus pelecehan seksual anak di bawah umur di wilayah Kabupaten Natuna tergolong tinggi. Dalam kurun 3 tahun belakangan, sedikitnya ada sebanyak 32 kasus yang ditangani Kejaksaan Tinggi Ranai Natuna.

Penelusuran warakepri.co.id, ada 32 kasus pelecehan anak di bawah umum mulai Januari 2012 hingga 2016. Pada Taun 2012 ada enam kasus, 2013 juga enam, 2014 ada tujuh kasus dan meningkat tahun 2015 jadi 13 kasus. Menariknya, untuk data laporan tahun 2016 nihil.

Waher Tarihoran, Kasipidum Kejaksaan Tinggi Ranai saat ditemui ruangan Kantor Kejasaan Tingggi Ranai menjelaskan, terkait persoalan pelecehan menimpa anak SMA di Natuna pada April 2016 belum ada laporan masuk ke kejaksaan.

” Belum ada surat masuk dari Polres Natuna untuk Perintah Awal dimulainya Penyidikan,” ucap Waher, Rabu (18/5/2016 ).

Waher mengetahui untuk kasus menimpa siswi SMA itu kabarnya sudah dilimpahkan ke Polda Kepri, melalui media berita.

Adapun, dalam analisa kejaksaaan, penyebab terjadinya kasus kekerasan dan pelecahan anak ini, karena pengaruh film porno sedangkan satu kasus lainnya akibat pengaruh minuman keras.

Menurut Waher, kecanggihan teknologi dan kemudahan mengakses internet tidak jarang menjadi pemicu munculnya nafsu birahi yang mengakibatkan terjadinya tindak pidana pelecehan seksual.

” Mulai Januari 2012 hingga Desember 2016 ada 32 korban anak pelecehan seksual . Sebanyak rata rata kasus akibat menonton video porno,” tandasnya.

Waher menambahkan, peran orang tua dituntut untuk lebih aktif membedakan antara rasa sayang terhadap anak dan dampak yang nanti ditimbulkan. Dan, menurutnya, orangtua kadang karena sayang, anaknya dibelikan ponsel yang ada internetnya. Dampaknya, dengan mudah anak-anak itu mengakses situs porno.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Waher dan pihak kejaksaan terus melakukan monitor terhadap aktivitas-aktivitas yang dicurigai bisa menambah jumlah kasus pencabulan anak di Natuna.

Sedangkan 3 lainnya dari orang tak dikenal, dan 2 dari teman korban. Selama ini kasus kekerasan seksual terhadap anak memang jarang terekspos.

Waher Tarehoran menegaskan pihaknya sudah siap secara lahir dan batin untuk menangani kasus AH itu bila mana perkara cabul itu dilimpahkan kekajari Ranai. “Oh iya kami sudah pasti siap, bahkan pasal-pasalnya pun sudah kami siapkan,” tegas Waher.
Jaksa Waher berjanji, akan mendakwa siapa saja yang menjadi pelaku pencabulan dan kekerasan sexsual terhadap anak dibawah umur termasuk AH dengan dakwaan yang seberat-beratnya karena urusan anak merupakan urusan bangsa dan negara secara keseluruhan.
“Kalau kasus cabul kami tidak ada kompromi dakwaannya pun harus berat karena anak indonesia dilindungi oleh undang-undang, makanya jangan coba-coba mencabuli anak dibawah umur,”tutup waher.

Teranyar, Kepolisian Resor Natuna, Kepulauan Riau, mengusut kasus dugaan pencabulan yang dialami siswi kelas 2 SMA di Ranai yang dilakukan anggota DPRD Natuna berinisial AH. Polisi mendapat laporan dari orang tua korban karena anaknya tak kunjung pulang. (ricky)

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
DEWAN PERS WARTAKEPRI

FANINDO

FANINDO

PKP HIMALAYA