WARTAKEPRI.co.id, MALUKU – Konvensi Nasional Media Massa dengan tema ” Intergritas Media Nasional Dalam Lanskap Komunikasi, dan pandangan Global : Peluang dan Tantangan Aplikasi Internet di Indonesia.
Konvensi adalah rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional di Ambon Maluku 2017, dengan menghadirkan pembicara internasional dan nasional, dengan tema tema kekinian yang diikuti oleh seluruh wartawan se Indonesia, Rabu (8/2/2017)
Hadir pembicara Menteri Komunikasi Rudi Antara, Pengusaha Media Harry Tanusudibyo, Pendiri Baidu Internasional Mr Boo dan juga Tokoh Pers Digital dan Pendiri Detik.com Budiono Darsono.
Banyak informasi dan motivasi disampaikan masing masing pembicara. Berikut kutipannya.
Dimulai dari Menteri Rudi Antara yang memaparkan kalau industri digital adalah industri yang paling meraup untuk dan kekayaan tertinggi didunia. Dalam 10 tahun terakhir, orang terkaya didunia adalah memiliki penghasilan hingga ribuan triliun.
Peringkat pertama adalah Appel dengan kekayaan mencapai Rp 9.000 Triliun, disusul Microsoft dengan kekayaan mencapai Rp. 7.000 Triliun. Dibawahnya pemilik Amazon.com, Google dan Facebook mencapai Rp 5.000 Triliun.
Angka angka kekayaan ini menunjukkan, industri digital menjadi raksasa ekonomi yang dipastikan akan terus besar. Lalu apakah Indonesia akan menjadi penonton saja, dan apakah orang dari Indonesia mampu melakukan hal sama, mengingat pengguna internet mencapai 150 juta orang di Indonesia, sekitar 50 persennya pengguna internet aktif.
Lalu, kini pemerintah Indonesia tengah membangun jaringan internet terpadu dari Indonesia Barat terhubung hingga ke Indonesia Timur, dengan sistem jaringan internet bawah laut.
Di wilayah Barat, dipusatkan di Natuna jaringan kabelnya, menghubungkan perairan selat Malaka ke Pulau Kalimantan. Lalu dari wilayah timur di pusatkan di Perairan Maluku. Tujuannya, menjadikan seluruh Kota dan kabupaten di Indonesia terakses internet cepat.
” Pertanyaannya, apakah dengan infrastruktur internet yang akan hadir di Indonesia ini, kita akan kembali menjadi penikmat saja, atau mau berubah serta ikut membuat layanan yang tidak kalah hebat yang juga untuk melayani masyarakatnya sendiri,” tantang Rudi kepada pengusaha media dan wartawan yang hadir.
Tentu mendengar penjelasan Rudi ini, menjadi pembicaraan yang mengejutkan tapi sekaligus ditanggapi tidak percaya oleh sebagian peserta konvensi.
Maklum para peserta sebagian besar adalah wartawan tua dan pemilik media cetak yang belasan tahun menikmati kejayaan media cetak.
Walau telah terpampang peluang besar dan telah ada pacarnya, para pemilik media konvensional saat ini harus cepat beralih teknologi dengan menyajikan informasi dengan cepat dan gratis.
Kritikan dari Tokoh Pers Leo Batubara disampaikan ke pembicara, dimana media cetak masih tetap ada, dan harus mendapat dukungan dari pemerintah.
Leo membandingkan, di Jepang orang masih membaca koran hingga saat ini, dimana 3 media besar di Jepang masih ada pembawanya jutaan pelanggan. Dan itu didukung pemerintah jepang agar media cetak tetap hidup. Termasuk di India, yang dijelaskan Leo, media cetak tidak terkalahkan di India.
Pernyataan dan pertanyaan itu, dengan mudah di Jawab oleh Menteri Rudi Antara dan ditambahkan oleh Budiono Darsono, selaku pendiri Kumparan.com serta Harry Tanusidibyo.
Menurut Rudi, di Jepang dan hampir semua negara dengan fasilitas internet cepat, pembaca usia muda lebih banyak pegang smartphone dari pada fisik kertas atau koran.
” Anak sekarang jempolnya geseknya jempolnya ke atas, kalau kita dulu gesek jempol kita kanan ke kiri karena baca koran. Lalu, apakah mereka nanti akan terbiasa dengan koran, tentu bisa dijawab nantinya. Ditambah, dengan akses media internet gratis, cepat dan tidak perlu lagi menunggu besok mendapatkan berita,” jawab Rudi.
Jadi tidak perlu ada dukungan pemerintah untuk membuat kebijakan tentang media cetak. Pemerintah dukung dan tidak larang isi informasinya, kalau wadahnya media cetak atau online, biarlah masyarakat memilihnya.
Adapun, Raja media Harry Tanusudibyo, pemilik MNC Group menjelaskan perusahaan nya tengah mengembangkan banyak aplikasi online untuk melayani masyarakat Indonesia.
” Industri digital tengah kami kembangkan dan akan merebut pasar nasional dan internasional. Kami kembangkan aplikasi belanja online dan aplikasi video online.
Aplikasi diyakini akan mampu bersaing dan merebut pasar internet asal, pemerintah memberi batasan kepada aplikasi asing masuk ke Indonesia, mengingat infrastruktur jaringan internet Indonesia akan terhubung dan akses cepat dari Sabang sampai Marauke. Jika tidak, pasar dan devisa Indonesia akan terus tersedot ke luar negeri,” ujar HT.
Bicara dunia internet dan media on-line di Indonesia, tokoh Budiono Darsono pendiri Detik.com dan kini mendirikan aplikasi Publiser dengan nama Kumparan.com
Budi telah lama menjelaskan, media cetak harus ikuti pasar saat ini, yaitu media online. Pendapat media online dari iklan internet di Indonesia makin tumbuh.
” Tribunnews adalah group Kompas, dan kini pendapatannya capai puluhan miliar. Dan telah menjadi media online yang posisi menempati top di Indonesia. Bukti, Tribun dibuat dengan fokus ke media online saja, mengalahkan kompas.com yang masih ragu, atau setengah setengah. Artinya, kalau mau serius satu produk maka hasil akan maksimal,” ujar Budiono, yang menawarkan aplikasi kumparan, bagi media cetak yang ingin beralih ke media online.
Sementara CEO Baidu yang kini menguasai pasar internet asia, mengaku kekayaan saat ini bernilai Rp 800 Triliun ingin mengembangkan pasar dan kerjasama dengan aplikasi online di Indonesia sebagai mitra. (dedy suwadha)





























