Kunci Untuk Bebaskan Terpidana Dedy dan Dwi Pencurian Besi 100 Ton Adalah Alat Bukti Telepon Seluler

237
Yusuf Norrisaudin SH Kuasa Hukum Keluarga
Harris Day Batam

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Setelah tampil disejumlah media, Andri Majid Saputra bersama sang Kakak bernama Tri Aldiansyah (24) terus mencari keadilan atas putusan hukum yang diterima sang ayah dan kakak kandung, yang diduga proses hukumnya ada sejumlah bukti tidak diungkap di persidangan.

Kali ini, Andri dan Tri hadir bersama Yusuf Norrisaudin SH Kuasa Hukum Keluarga menyampaikan untuk menuntut pembebasan terhadap Terpidana Dedy Supriadi dan Dwi Budisantoso dalam proses peninjauan kembali dari status hukum yang telah diputuskan beberapa waktu lalu.

” Keluarga melalui kami akan melakukan Peninjauan Kembali putusan hukum yang telah dijatuhkan ke klien kami. Dasar hukum PK untuk persidangan tingkat pertama adalah pasal 261 ayat 1 dan pelaksaannya 264 ayat 1 KUHP. Dasar hukum itu bisa dilakukan jika ada bukti hukum baru sejak ditemukan. Dan, bukti baru itu telah kami dapat dan akan digunakan untuk membebaskan klien kami. Bukti baru ini diduga belum diungkap selama proses pengadilan di PN Batam,” papar Yusuf Norrisaudin, Rabu (29/10/2020) dalam konprensi persnya.

Diterangkan Yusuf, selama ini pihak keluarga terpidana tidak tercerahkan terhadap proses hukum yang dialami. Dan, kasus ini menarik diungkap lagi setelah kedua putra dari terpidana mencari dan mengadu kesejumlah tokoh. Dan, setelah mempelajari kasus yang unik ini, akhirnya dengan penjelasan yang sangat rinci kepada istri terpidana, akhirnya pihak keluarga kembali tumbuh semangat hidupnya.

” Kunci untuk membebaskan terpidana ini, adalah ada alat bukti dalam bentuk telepon seluler yang isinya adalah perintah kerja dari pemilik sah perusahaan untuk meminta kedua terpidana untuk memotong besi dan menimbangnya. Kalau dibilang pencurian, kenapa bawa siang hari, dan ada surat jalan dari pihak perusahaan yang menyewakan tempat besi tua itu disimpan. Atas dasar percakapan di HP itulah, maka para terpidana melakukan proses kerja. Jika memang tidak ada perintah dari pemilik besi yang warga Malaysia itu, maka tidak akan berani klien kami melakukannya. Dan, kini upaya hukum sebelum proses PK kami mempublikasikan kalau keberadaan HP itu masih dipenyidik kepolisian. Dan, untuk proses mendapatkan itu, kami sudah membuat laporan ke Propam Polisi dengan laporkan seorang penyidik atas kasus ini,” papar Yusuf berulang ulang.

Polling Jelang 9 Desember 2020 Pilkada Kepri

Selain perjuangan mendapatkan HP itu, Kuasa hukum telah mempelajari proses persidangan yang terjadi. “Hasilnya memang ada hal-hal yang patut kami curigai. Dan, kecurigaan ini bisa saja akan kami laporkan ke lembaga lembaga yang mengawasi profesi dari masing masing penegak hukum tersebut,” tegas Yusuf menargetkan proses hukum di Propam Kepolisian dapat terealisasi pada November 2020 ini.

Ditambahkan Yusuf, kasus PK ini akan menarik untuk diikuti dan nanti akan dapat dibuktikan siapa yang bermain, dan siapa yang pihak yang salah sebenarnya. Dan, apa penyebab pihak keluarga tidak terjadi proses Banding ke Pengadilan Tinggi.

Jalannya dan Proses Kasus

Sementara itu, dikutip dari HaluanKepri, dijelaskan bahwa sang ayah dan sang kakak dilaporkan telah melakukan pencurian oleh pengusaha berinisial KSD alias AH pada 2 Mei 2019 lalu. Kata Andri, KSD alias AH adalah pengusaha yang sebelumnya membeli besi tua dari perusahaan JS & E Sdn Bhd, yang berlokasi di Kabil milik pengusaha berinisial MJA, namun belum dilakukan pelunasan pembayaran.

Karena pembayaran dari penjualan belum juga dilunasi oleh KSD, Akhirnya MJA menginstrusikan Saw Tun (orang kepercayaan nya di perusahaan JS & E Sdn Bhd) untuk menjual kembali besi tua untuk biaya operasional perusahaan.

Atas perintah tersebut, Saw Tun memerintahkan Dedy dan Dwi untuk melakukan pemotongan serta penjualan karena minimnya minmtra yang dimiliki boleh Saw Tun.

Untuk memenuhi kebutuhan operasianal maka diperintahkan untuk menjual potongan besi tua sebanyak 100 ton yang kepada pengusaha berinisial N pemilik perusahaan PT. RSU yang dibeli secara cash dan disertai surat jalan yang dikeluarkan oleh perusahaan pemilik lokasi di kabil tersebut.

Alih-alih membayar pelunasan, KSD malah mengaku sebagai pemilik besi tua yang telah dijual itu dan melaporkan keduanya ke Polda Kepri dengan tuduhan pencurian.

Setelah menjalani sidangnya pada 18 Mei 2020 dengan nomor perkara 170/Pid.B/2020/PN BTM ayah dan sang kakak di jatuh vonis selama dua tahun yang mana vonis tersebut lebih berat dari Saw Tun yang hanya divonis selama enam bulan saja.(*)

Kiriman : Taufik Chan/Dedy Suwadha

Ahok Jadi Saksi Persidangan Kasus Pencurian 100 Ton Besi di Ecogreen Kabil Batam

Komentar Anda

FANINDO DEWAN PERS WARTAKEPRI DPRD ANAMBAS DPRD KARIMUN