Inilah Modus Guru Pesantren di Cibiru Bandung Cabuli 12 Siswinya, Layakah Dihukum Kebiri?

Herry Wirawan
Herry Wirawan

BANDUNG – Sebanyak 12 anak di bawah umur yang juga santri pesantren di kawasan Cibiru, Bandung, menjadi korban pemerkosaan gurunya berinisial HW (36). Mirisnya lagi, tujuh korban hamil bahkan telah melahirkan sembilan bayi.

Kasus pemerkosaan itu sudah masuk dalam tahap persidangan dan sidang perdananya telah digelar Selasa (7/12/2021) kemarin.

Agenda sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Y Purnomo Surya Adi itu digelar secara tertutup. Sejumlah saksi dihadirkan dalam sidang yang umumnya merupakan santri korban kebiadaban HW.

Kasus pemerkosaan itu sudah masuk dalam tahap persidangan di mana sidang perdananya telah digelar Selasa (7/12/2021) kemarin.

Agenda sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Y Purnomo Surya Adi itu digelar secara tertutup. Sejumlah saksi dihadirkan dalam sidang yang umumnya merupakan santri korban kebiadaban HW.

Wakil Ketua LPSK, Livia Istania Iskandar berjanji memberikan perlindungan kepada para korban. Di sisi lain, dia berharap para hakim benar-benar memberikan hukuman setimpal pada pelaku.

“Alhamdulillah proses pemeriksaan sudah selesai, kita berharap putusan dari majelis hakim bisa memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku di satu sisi,” kata Livia dalam rilis yang diterima wartawan, Kamis (9/12/2021).

LPSK, katanya, juga berharap hakim memberikan keadilan kepada korban.

“Termasuk kemungkinan korban mendapatkan restitusi atau ganti rugi,” tegasnya.

Sebelumnya, seorang guru salah satu ponpes di Bandung, berinisial HW (36) memperkosa 12 santri. Korbannya adalah para santri pesantren di Cibiru, Kota Bandung. Usia para korban juga masih di bawah umur rata-rata 16-17 tahun.

“Terdakwa merupakan pendidik atau guru pesantren, total korban belasan orang,” ungkap Jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandung, Agus Mudjoko saat dikonfirmasi, Rabu (8/12/2021).

Menurut Agus, perbuatan terdakwa dilakukan dalam tentang waktu 2016 hingga 2021. Kejadian itu membuat korban trauma berat.

Jaksa mendakwa HW dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Jo Pasal 76D UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo Pasal 65 KUHPidana.

BACA JUGA Pernah Bangun Pesantren, Keluarga Tidak Percaya Patrialis Akbar Kena OTT KPK

Motif Pelaku

Aksi tersebut dilakukan HW dalam rentang 2016 hingga 2021 di beberapa tempat, seperti di pondok pesantren, hotel hingga apartemen.

Kasus tersebut kini sudah masuk ke pengadilan dan masih dalam tahap pemeriksaan saksi.

Dalam keterangan surat dakwaan, pelaku menggunakan berbagai cara untuk memaksa para santri melakukan hubungan intim dengannya. Salah satu korban mengatakan kalau ia sempat dijanjikan menjadi polwan oleh pelaku.

“Terdakwa menjanjikan menjadikan anak korban polisi wanita,” demikian bunyi surat dakwaan, dikutip Kamis (9/12/2021).

Selain itu, pelaku juga menjanjikan akan membiayai biaya pendidikan korban hingga selesai, untuk setelahnya akan menjadi pengurus pesantren.

Dalam surat dakwaan itu, pelaku mengatakan kalau mertuanya tak ingin punya banyak anak, sehingga hal itu membuat istrinya enggan melayani hasratnya.

“Terdakwa menceritakan mertuanya tak mau banyak anak,” katanya.

Atas perbuatannya, pelaku didakwa Pasal 81 ayat (1), ayat (3), juncto Pasal 76D UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo Pasal 65 KUHP.(*)

Sumber dirangkum dari Merdeka dan IndoZone.

FANINDO

Honda Capella