Home Berita Utama Antrean Solar 1 KM di Sumbar, Warga Rela Tunggu 12 Jam

Antrean Solar 1 KM di Sumbar, Warga Rela Tunggu 12 Jam

1
Ilustrasi news network Wartakepri
Ilustrasi news network Wartakepri

PAYAKUMBUH – Suasana pagi di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, beberapa pekan terakhir berubah menjadi pemandangan panjang kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Pada Rabu (8/7/2026), antrean kendaraan, khususnya yang mengincar bahan bakar jenis solar, dilaporkan sudah terbentuk sejak dini hari.

Bahkan di SPBU kawasan Koto Baru Piladang, Kota Payakumbuh antrean kendaraan untuk pengisian biosolar mencapai hampir satu kilometer, menjalar hingga ke badan jalan dan memicu kepadatan lalu lintas.

Pantauan di lapangan menunjukkan para pengemudi truk, pikap, hingga kendaraan pribadi tampak pasrah menunggu giliran. Mereka harus rela mengorbankan waktu produktif dan istirahat demi mendapatkan setetes bahan bakar. Seorang pengemudi, Ahmad (42), mengungkapkan bahwa kondisi antrean panjang ini bukanlah kejadian sesaat. Ia mengaku fenomena ini sudah berlangsung hampir 1 bulan belakangan.

“Pernah mengantre sampai 8 sampai 12 jam. Sekarang saja saya sudah mengantre satu jam untuk pengisian BBM subsidi solar. Ini sudah terjadi hampir dua minggu, sangat mengganggu pekerjaan kami,” keluhnya saat ditemui di tengah antrean.

Keluhan serupa juga muncul dari warga lainnya. Banyak dari mereka yang harus menunda aktivitas harian, seperti mengangkut hasil pertanian, berdagang, atau sekadar mobilitas rutin, hanya karena terjebak dalam antrean yang tak kunjung usai. Lamanya waktu tunggu dinilai tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga merugikan secara ekonomi, terutama bagi para pekerja harian yang mengandalkan kendaraan sebagai alat utama mencari nafkah.

Dampak Meluas hingga Kota Padang

Kondisi tidak jauh berbeda juga terjadi di Kota Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat. Pada hari yang sama, Rabu (8/7/2026), sejumlah SPBU di kota itu juga dipadati kendaraan yang berebut mendapatkan bahan bakar, terutama solar. Meskipun detail panjang antrean di Padang tidak disebutkan sepresisi di Payakumbuh, laporan dari warga menggambarkan situasi yang serupa, kendaraan mengular, waktu tunggu yang lama, dan ketidakpastian kapan pasokan akan kembali normal.

Meluasnya dampak hingga ke dua kota utama di Sumbar ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai akar permasalahan. Apakah ini murni akibat lonjakan permintaan yang tidak terduga, gangguan distribusi dari terminal BBM, atau ada faktor lain seperti pengalihan stok? Hingga berita ini ditulis, belum ada jawaban resmi yang dapat meredakan kegelisahan publik.

Kondisi yang semakin meresahkan ini turut mengundang perhatian tokoh masyarakat setempat. Melki Jekmi, seorang tokoh masyarakat Payakumbuh, menyuarakan keprihatinannya atas penderitaan warga. Ia menilai bahwa antrean panjang yang terjadi sejak dini hari hingga pagi menjelang telah merampas hak warga untuk beristirahat dan bekerja dengan tenang.

“Kasihan masyarakat, mereka harus mengorbankan waktu produktif dan waktu istirahatnya demi mengantre dari subuh. Ini bukan hanya soal BBM langka, tapi soal keadilan bagi rakyat kecil yang sangat bergantung pada solar,” ujar Melki kepada awak media.

Melki mendesak pemerintah daerah, Pertamina, serta instansi terkait untuk segera mengambil langkah konkret menormalisasi pasokan bahan bakar. Ia menekankan bahwa kelancaran distribusi BBM adalah urat nadi perekonomian daerah. Jika dibiarkan berlarut-larut, dampaknya bisa merembet ke sektor lain, seperti distribusi barang pokok, transportasi umum, dan aktivitas pertanian.

“Kami sangat berharap pihak berwenang segera menormalisasi pasokan agar mobilitas warga kembali lancar. Selain itu, kami juga mengimbau para pengendara untuk tetap tertib dan menjaga kondusivitas di lapangan guna menghindari kemacetan parah atau hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Imbauan untuk tetap tertib ini sangat relevan mengingat antrean panjang seringkali memicu gesekan antar-pengendara, penyerobotan jalur, hingga potensi kecelakaan. Kerawanan sosial di titik antrean BBM bukanlah hal baru, sehingga kesabaran dan kedewasaan warga menjadi benteng terakhir agar situasi tidak berubah menjadi chaos.

Misteri Penyebab: Menanti Keterangan Resmi

Hingga sore hari, redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi resmi dari berbagai pihak. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: apa penyebab kelangkaan ini? Apakah ada kendala di terminal BBM atau kebijakan kuota? Mengapa hanya solar yang terdampak signifikan? Berapa lama situasi ini akan berlangsung? – masih belum terjawab.

Pihak SPBU di lokasi kejadian belum bersedia memberikan komentar terbuka. Beberapa petugas yang ditemui hanya menyatakan bahwa mereka mengikuti instruksi dan mengandalkan kiriman dari Pertamina. Sementara itu, pihak Pertamina regional maupun instansi terkait lainnya hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi yang dapat dijadikan acuan.

Ketiadaan informasi ini justru memperkeruh suasana. Di era digital, spekulasi dan isu liar mudah menyebar, mulai dari dugaan penimbunan oleh oknum, pengalihan BBM subsidi ke industri, hingga isu mogoknya armada pengangkut. Masyarakat butuh transparansi agar tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

Masyarakat Payakumbuh dan Padang tentu berharap badai antrean ini segera berlalu. Seperti disampaikan Melki, tokoh masyarakat, bahwa langkah cepat penormalan pasokan adalah satu-satunya obat bagi kegelisahan warga. Selain itu, evaluasi menyeluruh terhadap rantai distribusi BBM subsidi di Sumatera Barat perlu dilakukan untuk mencegah terulangnya krisis serupa di masa mendatang.

Bagi para pengemudi cold Diesel seperti Ipet (40) yang setiap harinya menggantungkan hidup pada solar, kepastian adalah segalanya. Mereka tidak bisa terus-menerus menghabiskan waktu berjam-jam di antrean, kehilangan pendapatan, sementara tanggung jawab keluarga terus menanti.

Berita ini akan terus diperbarui segera setelah keterangan resmi dari Pertamina, pemerintah daerah, atau instansi terkait berhasil diperoleh. Hingga saat itu, doa dan harapan warga Sumbar tertuju pada satu titik: semoga antrean panjang ini segera menjadi cerita lama yang tak terulang.

(Rik/wk)

Google News WartaKepri

WhasApp

Banner DPRD Batam 2026