
WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Bupati Karimun Iskandarsyah menegaskan, dirinya terbuka terhadap berbagai kritik dan masukan dari masyarakat.
Namun, ia mengingatkan agar kritik disampaikan dengan bahasa yang santun, beretika, dan tetap menghormati nilai-nilai budaya yang berlaku.
Pernyataan tersebut disampaikan Iskandarsyah saat menanggapi polemik yang melibatkan akun Facebook Terbit Fajar, yang belakangan menjadi perhatian publik karena unggahannya yang dinilai sebagian pihak mengandung unsur penghinaan terhadap dirinya.
“Khusus buat akun Facebook Terbit Fajar, silakan mengkritik, namun harus dengan bahasa yang santun dan beretika,” kata Iskandarsyah, Kamis (30/7/2026).
Terkait kunjungan Lembaga Melayu Bersatu (LMB) Karimun ke Polres Karimun yang berkaitan dengan persoalan tersebut, Iskandarsyah menilai langkah itu merupakan bentuk kepedulian terhadap etika dalam menyampaikan pendapat.
Menurutnya, masyarakat Karimun menjunjung tinggi adab dan budaya Melayu, sehingga cara bertutur kata menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
“Karena kita di Kabupaten Karimun menjunjung tinggi adab dan budaya Melayu, terutama dalam perilaku dan perkataan. Mungkin hal itulah yang mendorong LMB Karimun berkunjung ke Polres Karimun,” ujarnya.
Iskandarsyah juga menegaskan, dirinya tidak pernah membuat laporan polisi terhadap pemilik akun Facebook Terbit Fajar.
“Saya tidak pernah melaporkan Terbit Fajar ke pihak kepolisian. Silakan dicek apakah ada laporan dari saya atau tidak. Saya menganggap kritik yang disampaikan merupakan bentuk harapan agar saya bisa melakukan yang terbaik untuk masyarakat,” jelasnya.
“Hanya saja, mungkin pilihan kata yang digunakan kurang tepat,” tambah Bupati.
Iskandarsyah menyampaikan, ia memilih untuk menyikapi persoalan tersebut dengan sikap terbuka dan penuh kebesaran hati.
“Saya sudah lama mengenal Terbit Fajar, dan dulu kami juga berteman baik. Karena itu, saya sampaikan bahwa saya bersedia memaafkan dia,” imbuhnya.
Bupati Karimun menyebut, kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, penyampaiannya diharapkan tetap mengedepankan etika, kesantunan, serta menghormati nilai-nilai budaya.
“Sehingga perbedaan pendapat dapat menjadi sarana membangun daerah secara konstruktif,” tandasnya.
Penulis: Junizar
Editor: Azis





























