Home Berita Utama Tak Sanggup Beli Ikan, Sebagian Masyarakat Natuna Beralih ke Ayam

Tak Sanggup Beli Ikan, Sebagian Masyarakat Natuna Beralih ke Ayam

Banner DPRD Batam 2026

WARTAKEPRI.co.id NATUNA -Kondisi cuaca yang kurang bersahabat di perairan Natuna, berdampak pada menipisnya ketersediaan atau pasokan ikan di pasar.

Karena pasokan ikan segar dari nelayan menipis, otomatis harga ikan saat ini di Natuna naik. Begitu juga ikan yang kondisinya kurang segar, oleh pedagang ikan dijual dengan harga yang juga tinggi.

Cuaca yang kurang bersahabat juga membuat banyak nelayan memilih menambatkan perahunya dari pada memaksakan untuk melaut.

” Kami jarang terdengar Perum Perindo memasok ikan ke pasar Ranai. Ikan yang dijual pasar bukan dari nelayan di pasar, tapi dari nelayan di beberapa pulau dan nelayan dari luar Ranai,” ujar salah seorang pedagang ikan di Pasar tradisional Ranai, Ujang, Kamis (23/8/2018).

Ujang menyebutkan,Harga ikan di pasar Ranai saat ini cukup tinggi dan bervariasi sesuai kondisi ikan.

“Seperti misalnya ikan tongkol yang mencapai Rp 60 ribu hingga Rp70 ribu/per ekor, ikan kembung dan ikan sarden juga mahal, yakni rata-rata Rp50 ribu sedangkan cumi cumi berkisar 50/kilo. Sebelumnya yang hanya Rp 30 ribu saja,”tutur Ujang.

Minimnya pasokan ikan serta harganya yang mahal saat ini, membuat masyarakat yang biasanya mengkonsumi ikan laut, saat ini beralih membeli ayam potong meski harganya juga mahal mencapai Rp 45 ribu perkilogramnya pasokan dari luar daerah.

Sementera jenis-jenis ikan lainnya juga mengalami kenaikan tapi tidak setinggi ikan Tongkol.

Menurut Ujang, kondisi ini semestinya dapat dicarikan solusi oleh pemerintah sehingga stok ikan di pasaran dapat stabil karena ikan merupakan keperluan harian masyarakat.

Selain faktor cuaca, ada beragam tangapan muncul dari kalangan masyarakat.

Udin Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam menuturkan kepada media ini,

Hadir Perum Perikanan Indonesia (Perindo) di Kabupaten Natuna sangat membantu nelayan namun tidak semata mata serapan ikan dari nelayan lalu di jual ke luar daerah tampa mengabaikan kebutuhan masyarakat lokal.

” Minimal perusahaan plat merah itu mampu menyangah kebutuhan lokal dulu jika terjadi cuaca ekstrim, jika telah terpenuhi kebutuhan lokal, silahkan kirim ke luar daerah,kan mereka punya pendingin Es cukup menampung stok ikan hingga 200 Ton,” keluh Udin mahasiswa semester Akhir.

Hal senada sampaikan seorang nelayan Ranai, Kecamatan Bunguran timur, Ramli membenarkan cuaca yang tidak menentu menjadi pemicu utama para nelayan tidak melaut.

“Kurang lebih hampir sepekan saya tidak melaut karena cuaca begitu tidak bersahabat. Terkadang panas, namun beberapa jam setelahnya bisa langsung hujan dan angin kencang sehingga sulit untuk diprediksi,” katanya.

Ramli mengaku hasil tangkapan ikannya lebih memilih jual ke Perum perindo di Selat Lampa.

” Dulu kami lempar ke pasar Ranai namun semenjak ada Perum kami lebih milih lempar ke Perum mereka langsung jemput bola ke pelabuhan mengunakan mobil,” sebut Ramli.

Para nelayan tidak mau mengambil resiko sebab kebutuhan ransum melaut cukup tinggi sehingga para nelayan lebih memilih menjual hasil tangkapan ke Perum.

Ia menambahkan, jika cuaca mulai membaik dalam waktu dekat ia bersama dengan nelayan lainnya akan segera berlayar untuk mengais rezeki di laut sehingga kebutuhan dan harga ikan bisa normal kembali.

“Jika kami paksakan harus melaut, risiko terlalu tinggi sehingga sebagian nelayan untuk sementara waktu memilih untuk beristirahat,” tuturnya.(*)

Laporan Rikyrinovsky

WhasApp

Google News WartaKepri