Maret 2016, Indonesia Alami Gerhana Matahari Total

242

Gerhana Matahari

JAKARTA, WARTA KEPRI.CO.ID – Dalam hitungan 48 hari lagi, 10 provinsi di Indonesia akan mengalami gerhana matahari total (GMT) pada 9 Maret 2015 mendatang. Lantas bagaimana cara bijak menyaksikan fenomena alam ini?

GMT merupakan fenomena alam yang sangat menarik untuk diamati. Perubahan dari terang ke gelap di pagi hari atau siang hari tentunya mengundang keingintahuan masyarakat untuk melihat apa yang terjadi.

Jalur GMT tersebut bermula dari Palembang (Sumatera Selatan), Bangka Belitung, Sampit (Kalimantan Tengah), Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Balikpapan (Kalimantan Timur), Palu, Poso, Luwuk (Sulawesi Tengah), Ternate dan Halmahera (Maluku Utara).

Wilayah Indonesia yang di luar jalur GMT bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian (GMS). Puncak gerhana di wilayah barat sekitar 07.20 WIB, wilayah tengah sekitar 08.35 WITA dan wilayah timur sekitar 09.50 WIT.

Dikutip dari situs gerhana-indonesia.id, dijelaskan bahwa GMT terjadi ketika matahari bulan bumi sejajar dan bulan berada di antara matahari dan bumi. Akibatnya cahaya matahari terhalang dan permukaan bumi yang dilewati oleh bayangan inti atau umbra bulan akan mengalami GMT.

Gerhana akan dimulai saat bulan perlahan menutupi piringan matahari semakin lama semakin besar area piringan matahari yang ditutupi bulan.
Sesaat sebelum memasuki fase total sinar matahari terakhir akan bersinar melewati lembah-lembah di permukaan bulan.

Fase total seluruh permukaan matahari tertutupi bulan. Kita dapat melihat bagian korona matahari menjulur dari bagian tepi piringan matahari.
Saat totalitas keadaan sekitar akan gelap seperti malam dengan bulan purnama. Langit di daerah cakrawala akan berwarna layaknya sore hari.
Tidaklah berbahaya melihat matahari secara langsung saat berlangsungnya fase total gerhana.
Namun akan sangat berbahaya melihat langsung saat gerhana sebagian dan pada saat piringan matahari mulai muncul ketika fase total telah selesai. Pastikan memakai alat pengaman sesaat sebelum fase total berakhir.

Paparan cahaya dengan intensitas tinggi seperti cahaya matahari dalam waktu lama akan menembus mata dan merusak lapisan retina mata yang berisi syaraf sensitif.
Kerusakan berupa penglihatan kabur dapat dialami berlangsung selama beberapa jam sampai minggu. Namun juga kerusakan permanen hingga kebutaan dapat saja terjadi.

Cara yang paling aman mengamati matahari adalah dengan metode proyeksi. Bila ingin mengamati langsung pastikan alat yang digunakan telah dilengkapi filter khusus untuk matahari.

Alat seperti kacamata hitam, film foto, film rontgen bukanlah alat yang aman digunakan melihat matahari.(brt1/swd)
DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel