WARTAKEPRI.co.id – Puncak hujan meteor perseid terjadi pada langit Turki dan Hungaria Ahad (13/8/2023). Sebelumnya, penampakan hujan meteor yang cukup panjang di Melbourne Australia. Dan, pada Minggu malam juga terlihat lama di India, dan sejumlah kota di Sumatera.
Kepala Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Emanuel Sungging menerangkan, hujan meteor perseid merupakan fenomena yang sepanjang tahun ada. Hujan meteor perseid terjadi kala Bumi mengelilingi Matahari dan sering kali melewati wilayah debu kosmis dalam tata surya.
Hujan meteor yang muncul tampak memancar dari satu titik langit di rasi bintang Perseus sehingga fenomena ini disebut hujan meteor perseid. Warga Bumi akan kembali disuguhkan dengan fenomena alam yaitu hujan meteor Perseid yang diprediksi akan terjadi pada 12 Agustus dan 13 Agustus 2023.
Indonesia termasuk di antara negara yang bisa menyaksikan momen hujan meteor tersebut, setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi hal tersebut.
Kandungan Meteor.
Tentu Banyak pula yang penasaran. Sebenarnya, meteor ini terdiri dari kandungan apa saja
Dikutip dari laman NASA.gov, meteor secara tradisional dibagi menjadi tiga kategori besar.
1. Meteorit berbatu adalah batuan, terutama terdiri dari mineral silikat.
2. Meteorit besi yang sebagian besar terdiri dari logam besi-nikel.
3. Meteorit berbatu-besi yang mengandung material logam dan batuan dalam jumlah besar.
BACA JUGA Data Meteorologi dan Ditretorat Air Baku BP Batam Ingatkan Warga Batam Hemat Air Bersih
Struktur Meteor.
Skema klasifikasi modern membagi meteorit menjadi beberapa kelompok sesuai dengan struktur, komposisi kimia dan isotop serta mineraloginya. Hujan meteor Perseid berasal dari awan puing yang tertinggal di tata surya bagian dalam, dari komet 109P/Swift-Tuttle, yang dikenal sebagai Komet Swift-Tuttle. Kumpulan debu, es, batu, dan bahan organik gelap sepanjang 16 mil atau 26 kilometer, komet ini mengorbit Matahari dengan kecepatan 93.600 mil per jam.
Meski bergerak dengan kecepatan 60 kali lebih besar dari kecepatan tertinggi jet tempur di Bumi, Komet Swift-Tuttle membutuhkan waktu 133 tahun untuk mengorbit Matahari sepenuhnya. Ketika komet mendekati Matahari, radiasi dari Matahari memanaskannya dan membuat es padat menjadi gas, atau menyublim. Ketika gas ini keluar dari komet, ia menerbangkan pecahan es, debu dan batu.
Selanjutnya sisa-sisa tersebut tertinggal di sekitar Matahari sebagai awan puing berpasir, menciptakan material komet di sekitar Bumi.
Ketika Bumi sedang mengelilingi Matahari, setiap musim panas antara Juli dan Agustus, Bumi melewati aliran puing-puing tersebut. Saat itulah, pecahan es dan debu memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan hingga 130.000 mil perjam.
Puing-puing itu menyebabkan udara terkompresi dan memanas. Akibatnya, pada ketinggian antara 70-100 km di atas Bumi, pecahan batu dan es yang lebih besar meledak sebagai bola api terang.
Fragmen puing yang lebih kecil bisa masuk lebih jauh ke atmosfer Bumi saat diuapkan, dan meninggalkan garis cahaya yang lebih panjang di belakangnya.
Sumber : NASA.gov. liputan6.com
Editor : Dedy Suwadha





























