Saatnya Masyarakat Aktif “Turn Back Narkoba”

Kepala BNN Budi Waseso menempelkan stiker bertuliskan "Stop Narkoba" di kaca Circle K Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Kamis (26/11). Kegiatan "Gerakan Stop Narkoba tersebeut merupakan kerjasama BNN dengan APRINDO (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) Jatim untuk mensosialisasikan bahaya Narkoba serta menaggulangi penyebaran narkoba di tempat berkumpul berbasis warung waralaba. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH) 26-11-2015





PENYALAHGUNAAN narkotika, psikotropika dan zat adiktif (narkoba) di Indonesia sudah sangat meresahkan dan mengkhawatirkan masyarakat dan negara. Banyak elemen masyarakat yang terkena dari pejabat, aparat keamanan sampai kepada anak berusia 10 tahun yang ditemukan menjadi pecandu narkoba aktif.

Modus penyebaran narkobapun berbagai macam dari yang memberikan oleh-oleh vitamin kepada pondok pesantren sampai kepada narkoba berupa cair yang dikemas dalam botol sampoo.

Berbagai upaya dilakukan para mafia narkoba membuat produk baru, bahkan saat ini narkoba ada yang tidak bisa terdeteksi jika si penggunanya diperiksa baik melalui tes urine maupun darah. Sehingga pengedar dan pembuat narkoba terus berinovasi untuk membuat narkoba jenis baru.

Maraknya dan inovasi dari para pengeder terhadap penyalahgunaan ini membuat negara harus melakukan sesuatu yang besar agar tidak terus berkembang yang dapat mengakibatkan masa depan negara akan suram.

Perkembangan jenis narkoba, BNN merilis, saat ini di Indonesia ada sekitar 41 jenis narkotika dan obat-obatan terlarang jenis baru yang beredar dari Sabang hingga Merauke. Hal ini sangat membahayakan bagi masyarakat, dan kita bagian dari masyarakat terkecil, harus waspada jangan sampai narkoba tersebut dapat membuat keluarga dan orang terdekat kita memakai narkoba.

Di Indonesia sendiri ada 10 provinsi yang tingkat pengunaan dan penyebaran narkoba ini tinggi, yaitu Provinsi DKI Jakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan lain-lain.

Jajaran Kementerian Agama (Kemenag) membangun kerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulawesi Barat, dalam upaya pemberantasan Narkotika dan Obat Terlarang (Narkoba) yang semakin meresahkan.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan Narkoba merupakan musuh bangsa karena bisa memberi efek buruk bagi genersi muda. Pihaknya tentu mendukung upaya pemerintah untuk bersama-sama BNN memerangi Narkoba.

Upaya Negara dalam menanggulangi penyalahgunanan Narkoba sangat perlu mendapat perhatian yang serius dari berbagai kalangan baik pemerintah, pendidik, penegak hukum, ulama maupun masyarakat. Karena itu langkah awal yang dilakukan Kemenag memerangi peradaran Narkoba dimulai dari lingkup Kementerian Agama.

Selain itu upaya lain yang dilaksanakan Kemenag ialah melakukan pendekatan atau sosialisasi bahaya Narkoba ke sejumlah sekolah. Kerjasama dengan pihak BNN ini dapat memberikan warna baru sehingga kelak jajaran Kemenag jauh dari penyalahgunaan barang haram itu.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea serta Cukai Jawa Barat, Muhammad Purwantoro, mengatakan pihaknya memperoleh seseorang tersangka warga negara Perancis yang membawa narkotika type marijuana serta hashish dengan memasukan kedalam kemasan botol shampo.

Ini adalah modus baru penyelundupan narkoba yang tersingkap oleh jajarannya. Hashish yang dimasukan kedalam botol shampo itu adalah saripati marijuana yang lebih beresiko bila disalahgunakan oleh manusia.

Kapolres Bangka Barat Prov. Kepulauan Bangka Belitung, melalui Kepala Bagian Operasi Kompol Candra Kurnia di Muntok, memberikan apresiasi positif terhadap peran aktif masyarakat dalam upaya pemberantasan narkoba.

Masyarakat cukup aktif memberikan informasi peredaran dan penyalahgunaan berbagai jenis narkoba di lingkungannya sehingga memudahkan kepolisian dalam melakukan penindakan para pelaku.

Dalam dua hari kami berhasil meringkus enam orang pelaku penyalahgunaan narkoba jenis ganja dan sabu, operasi tersebut tidak akan berhasil tanpa peran aktif masyarakat. Keberhasilan personel gabungan Polres Bangka Barat menangkap enam tersangka merupakan tindak lanjut informasi yang diberikan warga yang mencurigai adanya kasus penyalahgunaan narkoba di lingkungannya.

Sinergitas antara warga dan polisi akan terus ditingkatkan untuk memudahkan berbagai operasi yang dilakukan Kepolisian setempat. Tanpa adanya kerja sama yang baik, kami tidak akan mampu memerangi peredaran dan penyalahgunaan narkoba di daerah ini.

Laskar Melayu Bersatu berpendapat upaya pemerintah menekan penyelundupan narkoba melalui daerah perbatasan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) perlu dibicarakan dengan Malaysia.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Laskar Melayu Bersatu (LMB) Provinsi Kepri, Datuk Panglima Azman Zainal, mengatakan pemerintah perlu melakukan pembicaraan bilateral dengan negara Malaysia, karena ada kesan narkoba begitu mudahnya keluar dari negara itu dan masuk ke Indonesia melalui Provinsi Kepri.

Pembicaraan antara pemerintah dengan negara Malaysia itu sangat mendesak, mengingat makin maraknya penyelundupan narkoba melalui pelabuhan-pelabuhan resmi, terutama di Batam, Tanjung Balai Karimun dan Tanjung Pinang.

BNN maupun aparat penegak hukum di Provinsi Kepri, seperti kepolisian, Bea Cukai dan lainnya, sudah cukup intensif mencegah masuknya narkoba melalui para penumpang dari Kukup atau Stulang Laut, Malaysia.

Petugas Bea Cukai di Pelabuhan Internasional Batam Center, Pelabuhan Internasional Tanjung Balai Karimun atau Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang cukup sering mengamankan penumpang dari negara jiran itu karena membawa narkoba jenis sabu-sabu atau ekstasi.

Bahkan, pernah ditemukan, oleh Bea Cukai di Pelabuhan Tanjung Balai Karimun menangkap penumpang berkewarganegaraan Malaysia karena membawa 2.979 butir ekstasi. Bayangkan berapa banyak pemuda kita yang jadi korban, jika ekstasi sebanyak itu lolos dari pemeriksaan di pintu masuk.

Kepala Bagian Humas BNN, Slamet Pribadi, mengatakan Dari 41 jenis narkoba baru itu, 18 jenis sudah masuk UU tentang Narkotika dan sisanya masih kami dorong agar masuk dalam UU itu, karena selama ini 23 narkoba jenis baru itu jeratan kasusnya masih menggunakan UU tentang Kesehatan dan ancaman hukuman kepada para pengedarnya sangat ringan karena hanya dikenakan pasal di UU Kesehatan.

Untuk di dunia saat ini sudah ada 600 jenis narkoba baru. BNN terus mencegah jenis narkoba tersebut masuk ke Indonesia. Berbagai upaya dilakukan para mafia narkoba membuat produk baru, sehingga pengedar dan pembuat narkoba terus berinovasi untuk membuat narkoba jenis baru.

Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa, mengatakan hati-hati bila ada orang sepertinya baik hati memberikan vitamin, ini cuma pura-pura. Ini juga PR pesantren, kiai, bu nyai, supaya mengubah pikiran kita, yang semula pikiran lurus diubah menjadi melenceng, karena sudah terkena narkoba.

Menginginkan agar seluruh warga Muslimat ikut berpartisipasi aktif memberantas narkoba hingga di lini paling kecil, di keluarga. Muslimat punya tugas di masing-masing keluarga, pastikan bebas narkoba. Pastikan juga di masng-masing jamiyah ranting (desa), anak cabang (kecamatan). Ini PR (pekerjaan besar) bangsa kita.

Kepolisian Sektor Cikarang Barat Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, melalui Kanit Reskrim Polsek Cikarang Barat, AKP Eko Rundianto, menangkap seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan swasta di wilayah hukum setempat pada 8 April 2016 atas tuduhan memiliki sabu seberat 0,28 gram yang disimpannya dalam bungkus rokok.

Penangkapan itu bermula dari aduan masyarakat jika yang tersangka kerap mengedarkan narkoba di sekitar lokasi penangkapan. Penangkapan terhadap pelajar yang diduga bandar narkoba ini, berawal saat pihaknya melakukan observasi di lapangan dan mendapat informasi pelaku sering mengedarkan narkotika jenis sabu-sabu.

Anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Aceh Selatan menciduk seorang pegawai negeri sipil di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II-B Tapaktuan, karena diduga sebagai pemakai narkoba jenis sabu-sabu.

Kapolres Aceh Selatan AKBP Achmadi SIK melalui KBO Satres Narkoba, Aiptu Supianto di Tapaktuan, Minggu menyatakan, pihaknya telah menangkap salah seorang sipir Rutan Kelas II-B berinisial RS berikut barang bukti berupa dua paket kecil sabu-sabu serta satu buah kaca, pada Kamis 7 April 2016.

Masyarakat cukup aktif memberikan informasi peredaran dan penyalahgunaan berbagai jenis narkoba di lingkungannya sehingga memudahkan kami dalam melakukan penindakan para pelaku.

Tingkat kematian akibat narkoba sangat besar, dimana sehari ada sekitar 40-50 orang meninggal dunia akibat narkoba, ini mengerikan dan bahaya luar biasa bagi kehidupan masyarakat dan bernegara. Berbagai kementerian dan lembaga yang mempunyai inisiatif untuk bekerjasama dengan BNN it untuk dapat meminimalisir perkembangan penyalahgunaan narkoba harus diapresiasi.

Peredaran narkoba di daerah perbatasan pun harus benar-benar kita cegah, karena daerah perbatasan sangat rawan dengan masuknya barang-barang ilegal dan haram seperti narkoba.

Aparat kita khususnya di daerah perbatasan harus semakin cermat dalam mengawasi penumpang maupun barang-barang yang keluar masuk melalui pelabuhan-pelabuhan resmi ataupun tempat penyeberangan tidak resmi.

Karena apabila tidak diawasi secara ketat dikhawatirkan penyelundupan narkoba di mulai dari daerah-daerah perbatasan ini, oleh sindikat narkoba antar negara yang tujuannya selain mencari keuntungan juga untuk menghancurkan negara Indonesia melalui narkoba.

Aparat kita juga diharapkan tidak boleh toleransi terhadap penyelundupan dan penyalahgunaan narkoba, siapapun yang terlibat tidak terkecuali aparat itu sendiri baik TNI, Polri dan sipir Lapas, harus ditindak sesuai dengan aturan, karena apabila tidak ada tindakan tegas, efeknya kepada generasi penerus bangsa ini, akan ketergantungan dengan narkoba.

Kita harus bersatu melawan narkoba, dimulai dari keluarga dengan mendorong semua ibu memastikan keluarganya bebas narkoba, memberantas penyalahgunaan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, mendukung hukuman berat bagi pengedar narkoba, hingga merehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.

Peran aktif masyarakat dan elemen masyarakat lainnya juga diperlukan agar penyalahgunaan dan peredaran narkoba bisa diminimalisir perkembangannya di negara yang kita cintai ini.(*)
Sultan Pasya S.Sos
Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial



PKP DREAMLAND

FANINDO

DEWAN PERS WARTAKEPRI

PEMPROV KEPRI
PEMKO BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA