Home Batam Ini Penyebab Ekonomi di Kepri Memburuk dan Pengangguran Meningkat

Ini Penyebab Ekonomi di Kepri Memburuk dan Pengangguran Meningkat

warta kepri bank indonesia bi
Banner DPRD Batam 2026

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Roda perekonomian di Provinsi Kepri mengalami penurunan alias minus ada pertumbuhan selama Triwulan I 2016 Januari sampai Maret 2016. Pengaruh tarik ulurnya status Pulau Batam serta siapa yang akan menjadi kepala BP Batam yang baru, membuat niat investor takut berinvestasi sehingga pertumbuhan ekonomi di Kepri turun dari 5,20 persen (year on year) menjadi 4,58 persen (yoy).

” Status KEK atau FTZ Batam serta siapa ketua BP Batam, mempengaruhui dan akibatkan menurunnya nilai investasi di Batam. Secara angka menurun berkisar 1,43 persen (yoy). Ditambah lagi, sektor industri manufaktur yang saat masih beroperasi di Batam, turut menahan untuk tidak berproduksi,”ujar Gusti Raizal Eka Putra, Kapala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Kamis (19/5/2016).

Dipaparkan Gusti Raizal, dampak penurunan investasi di Batam, berdampak pada penurunan peringkat pertumbuhan ekonomi Kepri di Wilayah Sumatera. Posisi Kepri jatuh ke peringkat pertama selama ini, menjadi peringkat kelima atau 4,58 persen (yoy). Posisi pertama diambil oleh Sumatera Barat dengan pertumbuhan 5,48 persen (yoy). Sedangkan, pertumbuhan ekonomi terburuk di Provinsi Riau hanya 2,34 persen (yoy).

bank indonesia warta kepri bi” Secara regional Sumatera, faktor perlambatan ekonomi Sumatera, karena produk CPO menurun akibat asap dan hujan akhir tahun 2015. Harga minyak sawit juga belum ada perbaikan. Sektor tambang di Bangka Belitung yang juga rendah, hasil pabrik tabama yang juga menurun. Sedangkan, Kepri yang menjadi roda penggerak ekonomi di Sumatera mengalamai pelambatan investasi,” papar Gusti lagi.

Perlambatan ekonomi di Kepri turut mempengaruhi serapan tenaga kerja di Kepri. Tercermin dari peningkatan pengangguran. Berdasarkan data rilis Februari 2016, tingkat pengangguran Kepri mencapai 9,03% (yoy), meningkat dibanding periode Agustus sebesar 5,63% (yoy). Penurunan serapan tenaga kerja dicatatkan sektor industri, pertambangan, keuangan dan pertanian.

Meningkatnya angka pengganguran juga mempengaruhui daya beli masyarakat untuk sektor property. Dampaknya, pertumbuhan kredit perbankan sebesar 6,45% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya sebesar 7,93% (yoy).

” Banyak aturan dan penindakan juga berdampak menurunnya pertumbuhan usaha dibidang impor. Baik impor beras, gula dan sembako lainnya. Turunnya minta usaha melakukan impor barang, tentu akan berpengaruh pada harga kebutuhan pokok di Kepri. Apalagi, ini menjelang puasa. Kamipun sudah menjelaskan ini dalam rapat-rapat dengan pemda, agar mewaspadai,”jelas Gusti.

Dengan penurunan pertumbuhan ekonomi ini, maka Bank Indonesia Kepri terpaksa merevisi angka pertumbuhan di tahun 2016. ” Jika awal tahun 2016, kami perkirakan angka pertumbuhan di Kepri 6,2 sampai 6,4 persen maka kami revisi dikisaran angka 5,5 persen hingga 5,7 persen,” keluh Gusti.

Harapan untuk dapat meningkatkan pertumbuhan di Kepri, akan terjadi setelah puasa hingga akhir tahun. Bisnis properti saat ini sedang bekerja, begitu juga penyerapan anggaran daerah sudah mulai berjalan, dimana proyek-proyek pembangunan menggunakan anggaran daerah dan nasional sudah proses lelang. (dedy)

WhasApp

Google News WartaKepri