Bidan Lulusan Batam Terhipnotis, Terdakwa Fredy dan Antoni Tawarkan Emas Palsu

256

Wartakepri.co.id, Batam – Awalnya Dua terdakwa spesialis Hipnotis, yaitu Fredy Saputra alias Saputra dan Antoni bin Karlis. Kedua terdakwa mempelasah seorang Bidan lulusan Batam yang menjadi korbanya, pada hari Rabu tanggal 07 Juni 2017, sekitar pukul 12.00 Wib, bertempat di ATM Center Pasar Sagulung Kota Batam.

Kedua terdakwa sudah menyusun strategi dan sepakat untuk melakukan penipuan, dengan menginjar korbannya di ATM Center Pasar Sagulung. Mereka pun bergegas ke lokasi yang dituju, sesampainya didekat ATM, kedua terdakwa berhenti di seberang jalan sambil memantau orang yang masuk kedalam ATM.

Mangsa pun datang, kedua terdakwa melihat saksi Yenni Jelpia Siambaton sedang melakukan transaksi di mesin ATM BRI. Saat saksi Yenni Jelpia Simabaton keluar dari ATM, aksi hipnotisnya mulai dijalankan. Terdakwa Fredy langsung masuk dan membuang dompet kecil yang berisi kalung rantai warna kuning.

Umpan itu pun berhasil, terdakwa Fredy langsung memanggil saksi Yenni Siambaton dengan mengatakan,” bu, ini dompet siapa, punya ibu ya karena di dalamnya ada emas”, sambil menunjukan dompet tersebut kepada saksi Yenni.

PKP HIMALAYA

Merasa kedua terdakwa belum nyaman dan pembicaraan mereka tidak didengar orang, terdakwa Fredy mengajak saksi Yenni masuk kedalam mobilnya. Setelah dalam mobil, terdakwa Fredy mengatakan bahwa: kalung tersebut di dalam suratnya senilai Rp.15.000.000 juta. Uang penjualan kalung itu nanti kita bagi tiga, dengan masing masing mendapatkan Rp.4.000.000 juta, sedangkan sisanya Rp.3.000.000 juta disumbangkan ke Panti Asuhan.

Selanjutnya terdakwa Antoni bin Karlis mengemudikan mobil kearah ATM SPBU depan Paradise. Dalam perjalanan terdakwa Fredy menanyakan rekening saksi Yenni, karena terdakwa tidak punya uang tunai. Sesampai di ATM SPBU Paradise terdakwa Antoni berpura pura menanyakan,” kartu ATM ibu bersama ngga,” lalu saksi Yenni menunjukkan kartu ATM BRI yang diketahui oleh para terdakwa kalau kartu ATM BRI warna hijau.

Merasa korbanya sudah dapat diperdaya, terdakwa Antoni menyiapkan kartu ATM BRI pengganti untuk ditukarkan ke saksi Yeni. Setelah itu terdakwa Fredy dan saksi Yenni turun dari mobil, lalu masuk kedalam ATM. Terdakwa Fredy berpura pura menstranfer ke rekening saksi Yenni. Terdakwa Fredy lalu menyuruh saksi Yenni untuk mengecek saldo, apakah uang yang saya transfer tersebut sudah masuk kedalam rekeningnya..? Tanya terdakwa Fredy.

Proses hipnotis terus berjalan, saksi Yenni mengecek saldo rekeningnya, namun terdakwa Fredy melihat dengan jelas nomor Pin korban dengan saldo di rekening sebesar Rp. 8.000.000 juta. Akal terdakwa terus berusaha untuk mendapatkan uang korban, dan menyuruh saksi Yenni untuk mengecek ke ATM BNI disebelahnya.

Pikiran korban semakin jauh dibawa kedua terdakwa, hingga apa yang diminta diturutinya. Saksi Yenni memasukkan kartu ATM BRI nya untuk mengecek saldo dan pada saat itulah terdakwa hafal nomor Pin ATM saksi. Lagi lagi saksi Yenni tertipu karena uang yang dungkapkan terdakwa belum juga masuk. Lalu terdakwa Fredy mengatakan kepada saksi Yenni,” kita ke tempat lain aja ambil uang tunai.

Selanjutnya kedua terdakwa membawa saksi Yenni kearah pasar Sagulung, dan ditengah perjalanan terdakwa Antoni memberikan amplop putih kepada saksi Yenni sambil mengatakan,” kartu ibu masukkan aja kedalam amplop terus disegel atau di lem.

Kemudian terdakwa Antoni mengambil amplop dari saksi Yenni dengan mengatakan,” sini saya balut bu”, dengan mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan,” saya tidak bisa ambil uang didaerah Batu Aji dan bisanya didaerah Punggur Kabil ,” dan saat itu terdakwa Antoni langsung menukar amplop yang berisi kartu ATM BRI yang lain.

Sesampainya di Pasar Sagulung terdakwa Fredy memberikan 2 amplop kepada saksi Yenni yang berisikan kalung rantai kuning dan kartu ATM. Namun terdakwa berpesan, jangan dibuka bu sampai kami kembali. Terdakwa meminta nomor Hp saksi Yenni. Setelah saksi Yenni turun dari mobil, para terdakwa langsung pergi ke ATM BRI kawasan tunas Regency.

Setelah berpisah, terdakwa Fredy langsung menarik tunai uang dari ATM BRI milik saksi Yenni sebanyak Rp.5.000.000 juta, dan sisanya sebanyak Rp. 3.000.000,-(tiga juta terdakwa transfer ke nomor rekening Rizal Salim, yang nomor tersebut terdakwa Fredy dapatkan dari Farel Farera.

Kedua terdakwa pergi ke Kedai Kopi Center Point Nagoya menemui Farel dan disana para terdakwa membagi rata uang milik saksi Yenni masing masing Rp. 2.500.000 juta, dan sisanya sebanyak Rp. 500.000, para terdakwa bayarkan untuk makan. Sehingga dalam perkara ini menjadi tiga terdakwa, dengan dakwaan ikut serta.

Akibat perbuatan ketiga terdakwa tersebut saksi Yenni Jelpia Simabaton mengalami kerugian sebesar Rp. 8.000.000 juta dan emas yang ditawarkan pun palsu. Terdakwa Yenni dihadirkan di persidangan dan keterangannya sama dengan dakwaan JPU. Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 Jo Pasal 55 Ayat 1 KUHP dan pasal 363 Ayat 1 ke-4 KUHP.

 

( Nikson Simanjuntak )

 

 

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel