
WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Pemerintah Kabupaten Karimun terus mendorong pelestarian budaya Melayu sebagai bagian dari pembangunan daerah. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Sembang Budaya bertajuk “Pantun sebagai Identitas dan Warisan Adat Melayu”, yang dihadiri Bupati Karimun, Ing. H. Iskandarsyah, bersama jajaran pemerintah daerah, tokoh adat, budayawan, insan pendidikan, dan masyarakat.
Kegiatan ini menjadi ruang untuk membahas keberadaan pantun sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga warisan budaya Melayu di tengah perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat.
Bagi masyarakat Melayu, pantun tidak hanya dipandang sebagai karya sastra lisan. Pantun telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya karena digunakan untuk menyampaikan nasihat, pesan moral, penghormatan, ungkapan perasaan, hingga menjaga tata krama dalam berkomunikasi.
Bupati Karimun, Ing. H. Iskandarsyah, mengatakan, pelestarian adat dan budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan Kabupaten Karimun. Hal tersebut sejalan dengan visi pemerintah daerah, yaitu “Terwujudnya Karimun yang Maju, Sejahtera, dan Berbudaya”.
Menurutnya, kemajuan daerah tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga perlu dibarengi dengan penguatan karakter masyarakat melalui nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
“Pantun memiliki nilai yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Melayu. Ia bukan sekadar sastra lisan, melainkan sarana efektif dalam menyampaikan nasihat, pesan moral, penghormatan, dan tata krama kesantunan,” ujar Iskandarsyah.
Ia mengungkapka, pelestarian seni dan budaya juga berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berkarakter sekaligus mampu menghadapi tantangan zaman.
“Dalam kegiatan tersebut, Bupati Karimun menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam pelestarian pantun. Menurutnya, anak-anak muda tidak cukup hanya mengenal pantun sebagai peninggalan budaya dari generasi terdahulu, tetapi juga perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan dan mengemasnya sesuai perkembangan zaman,” ungkap Iskandarsyah.
Teknologi digital dan media sosial kata Iskandarsyah, dapat dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk memperkenalkan pantun kepada masyarakat yang lebih luas. Pantun dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk konten kreatif, seperti video pendek, pertunjukan digital, kegiatan pendidikan, maupun berbagai kegiatan komunitas.
“Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai dapat membuat budaya Melayu lebih dekat dengan generasi muda sekaligus membuka peluang agar pantun dikenal tidak hanya di Karimun, tetapi juga di tingkat nasional bahkan internasional,” imbuhnya.
Karena itu, pemerintah daerah mengajak tokoh adat, budayawan, guru, komunitas seni, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ruang kreatif bagi pengembangan kebudayaan Melayu.
“Pantun adalah bagian penting dari identitas dan jati diri Melayu yang harus kita jaga bersama. Jangan sampai generasi penerus kehilangan akar budayanya. Pemkab Karimun berkomitmen memberikan ruang dan dukungan penuh agar karya seni serta para seniman lokal terus terberdayakan,” kata Iskandarsyah.
Dia berujar, Sembang Budaya memperlihatkan pelestarian budaya tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Keberlangsungan pantun membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama keluarga, lembaga pendidikan, komunitas budaya, seniman, dan generasi muda.
“Pengenalan pantun sejak usia sekolah dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut. Di sisi lain, komunitas dan pelaku seni dapat terus menciptakan inovasi agar pantun tetap relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” pungkasnya.
Melalui kegiatan Sembang Budaya, Pemkab Karimun berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya Melayu semakin kuat. Menjaga pantun pada akhirnya bukan hanya mempertahankan bentuk sastra tradisional, tetapi juga menjaga bahasa, adat istiadat, etika, dan nilai-nilai kehidupan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Melayu.
“Pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pembangunan sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi, sehingga identitas budaya tetap kuat sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” tandasnya.
Penulis: Junizar
Editor: Azis





























